Insiden SKTT GI Kebon Jeruk – GI Karet Baru

Oleh : Julius Situmorang, Asisten Manajer Jaringan Area Cengkareng PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tanggerang

Cerita ini adalah pengalaman ketika bertugas di Area Menteng. Kamis malam, 21 Agustus 2014, usai berjumpa dengan pacar, saya tidak pulang ke kosan melainkan ‘pulang’ ke Kantor di Menteng mengingat keesokan paginya harus berangkat pagi-pagi buta jika tidak ingin berjibaku dengan macetnya Jakarta. Akhirnya malam itu saya habiskan dengan menikmati istirahat malam di atas susunan empat buah kursi yang biasa digunakan tamu untuk menunggu.

Di tengah-tengah istirahat malam itu, pukul 02.12 WIB, radio HT berbunyi. “Menteng, Timur.” Tentu saja ini berarti bahwa posko Menteng dipanggil oleh dispatcher timur Area Pengatur Distribusi (APD). “Timur silakan,” jawab Bang Udin, yang menjadi pengatur saat itu. Di benak kami hanya memikirkan kemungkinan gangguan penyulang mana yang terjadi. “Gangguan penyulang di Menteng, bisa kayak minum obat Bang,” kata beberapa teman ketika saya baru pertama kali bergabung ke Menteng.

“GI Karet Baru trafo 1, 2, 3 hilang tegangan,” sahut APD Timur di radio komunikasi tersebut. Saya dan Bang Udin langsung pandang-pandangan sambil penasaran menunggu berita selanjutnya. “Biasanya kalau gangguan sistem seperti ini sebentar Bang, paling 5 atau 10 menit normal lagi,” kata Bang Udin. APD kemudian menginfokan agar segera melakukan manuver beban penyulang yang dipasok dari Gardu Induk (GI) Karet Baru. Saya dan Bang Udin langsung kembali saling melihat.

Hal ini berarti gangguan sistem bersifat permanen dan bukan temporer. Area Meteng kekurangan pasokan sebesar 2555 Ampere atau setara 90 MW beban normal sehari-hari yang disalurkan keribuan pelanggan melalui 32 penyulang. Kami langsung melihat ke Single Line Diagram (SLD) yang terpampang di sepanjang dinding ruangan pengatur posko Menteng dan memfokuskan pada pasokan yang berasal dari GI Karet Baru.

Dari 32 penyulang tersebut terdapat 13 penyulang yang memasok 5 gardu atau 5 pelanggan. Ternyata pelanggan besar seperti Grand Indonesia, Thamrin City, Pasar Tanah Abang Blok B dan Plaza Indonesia juga dipasok dari GI Karet Baru. Kami langsung menentukan penyulang mana yang akan dimanuver terlebih dahulu atau yang menjadi prioritas untuk menyala terlebih dahulu. Yang menjadi prioritas adalah pelanggan-pelanggan umum dan vital seperti rumah sakit, sekolah dan kantor pemerintah untuk dinyalakan terlebih dahulu. Sementara pelanggan besar yang merupakan beban spotload “dibiarkan” padam dengan mengingat tidak semua beban bisa ditampung dari spindle lain dan anggapan mereka pasti memiliki cadangan pasokan dari genset.

Sampai pukul 08.00 WIB, kami berhasil memanuver 13 penyulang ke GI lain dan menyalakan 75 gardu dari 109 gardu padam akibat gangguan tersebut. Beberapa pimpinan dari Area Menteng, APD dan Area Pelaksana Pemeliharaan (APP) Utara langsung mengadakan rapat terkait gangguan tersebut. Dari hasil rapat diperoleh informasi bahwa gangguan sistem yang terjadi adalah gangguan Saluran Kabel Tegangan Tinggi (SKTT) 150 kV yang menghubungkan GI Kebun Jeruk dan GI Karet Baru. Kerusakan diakibatkan adanya boringan (pekerjaan) dari pihak luar di sekitar wilayah Kebun Jeruk.

Dikarenakan sirkuit 1 sistem ini sudah rusak sebelumnya, sehingga kerusakan sirkuit 2 ini menghilangkan pasokan ke GI Karet Baru. Mau tidak mau kerusakan kabel ini harus diperbaiki. Mengingat proses perbaikan yang cukup lama, diputuskan beberapa langkah cepat untuk mengurangi pemadaman yang berkepanjangan, antara lain:

  1. Akan ditambah pasokan ke GI Karet Baru yang berasal dari 4 penyulang GI Senayan dengan batasan beban 400 Ampere. Hal ini bisa direalisasikan secepatnya hari itu juga.
  2. Prioritas adalah pelanggan vital dan umum, untuk beban spotload akan dinyalakan berikutnya.
  3. Akan dipasang trafo GI bergerak dengan kapasitas 30 MW dalam waktu 2 hari berikutnya.
  4. Akan dipasang interface langsung dari switchyard saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) GI Karet Lama ke GI Karet Baru sehingga diharapkan menjadi cadangan tambahan untuk GI Karet Baru. Hal ini juga membutuhkan waktu yang cukup lama.
  5. Memperbaiki SKTT yang rusak dengan target waktu 5 hari.

 

Dari hasil pertemuan tersebut, hal yang pertama dilakukan adalah mendata dan merekap penyulang yang dipasok dari GI Karet Baru berikut gardu-gardu yang ada di dalamnya dan besarnya arus beban tertinggi setiap penyulang tersebut. Sebagai tambahan kami memberikan keterangan manuver penyulang tersebut dipasok dari mana. Hal ini akan memudahkan kami untuk melakukan manuver selanjutnya jika mendapat pasokan tambahan. Hal yang dilakukan berikutnya adalah menghubungi pelanggan-pelanggan padam terutama pelanggan khusus tersebut. Sebagai langkah awal kami langsung juga menghubungi teknisi pelanggan tersebut agar segera mempersiapkan pasokan cadangannya.

Sekitar Pukul 10.00 WIB diperoleh info bahwa pasokan tambahan dari GI Senayan akan masuk ke GI Karet Baru melalui empat penyulang yang bertemu disalah satu konfigurasi spindel. “Menteng silakan dinormalkan kembali beban sampai 400 ampere,” seru APD Timur di radio komunikasi. Kami langsung kembali melihat data yang sudah kami buat sebelumnya dan mengusulkan 6 penyulang dengan memaksakan 560 Ampere beban normal dengan berharap realisasi beban pada saat itu berkurang dari biasanya. 6 penyulang dan 28 gardu akhirnya menyala kembali dengan pasokan tambahan dari GI New Senayan tersebut. Kami bisa bernafas lega sedikit.

Dari daftar manuver GI Karet Baru yang sudah dibuat kami melakukan update dan menemukan 13 penyulang yang memasok 5 gardu pelanggan khusus dengan total beban normal tertinggi 1200 Ampere. Dapat darimana lagi ini? Koordinasi Area Menteng dan APD terus dilakukan untuk mencari celah mendapat pasokan tambahan. Ternyata tidak ada. Opsi yang tersisa adalah menunggu trafo GI bergerak terpasang. Trafo ini mengambil sumber switchyard SUTT 150 kV yang ada di GI Karet Lama, dan menyalurkannya menjadi 20 kV ke salah satu rel khusus untuk 13 penyulang tersebut. Untuk menyiapkan rel khusus di GI Karet Baru itu juga memerlukan manuver kembali untuk beban-beban yang sudah menyala dan berada di rel yang sama dengan beberapa penyulang khusus tersebut.

Hal ini membuat pelanggan harus mengalami padam sementara lagi. Kami memilih melakukan manuver tersebut pada tengah malam agar pelanggan tidak merasa terlalu terganggu dengan meski hanya padam sesaat. Jumat malam pukul 23.30 WIB manuver sudah dilakukan dan rel tersendiri sudah siap untuk ketiga belas penyulang dengan pasokan dari Trafo GI Bergerak.

Dari tinjauan, didapat informasi bahwa Trafo GI Bergerak akan dapat dibebani pada Minggu subuh, sedangkan dari tinjauan ke lubang galian diperoleh informasi perkiraan SKTT normal kembali sekitar 5 sampai 7 hari lagi. Dengan kapasitas trafo yang ada, berarti kami mendapat pasokan 700 Ampere (80% kapasitas maksimum Trafo GI Bergerak). Dengan beban yang masih padam sebesar 1200 Ampere, jelas harus dilakukan pembatasan atau pemadaman bergilir. Akhirnya kami memilih pembatasan beban yang bisa digunakan oleh pelanggan. Sampai hari Senin, 25 Agustus kami membatasi penggunaan beban oleh pelanggan sebesar 50 persen. Kami langsung berkoordinasi kembali ke pelanggan tersebut untuk menurunkan pemakaian bebannya, atau pilihan tegas harus diambil yaitu pemadaman langsung kepada pelanggan tersebut. Hal ini dilakukan agar pasokan dari trafo GI bergerak dapat berlangsung secara kontinu dan tidak mengalami gangguan beban lebih yang berdampak pada pemadaman yang lebih luas. Puji Tuhan hal ini berjalan dengan baik dan pelanggan mau bekerja sama.

Hari Jumat kami mendapat kabar baik bahwa perbaikan kabel SKTT yang rusak sudah hampir rampung, tinggal menunggu pengisian minyak dan tekanan minyak di kabel mencapai angka yang diinginkan sesuai dengan syarat operasi.
Jumat malam, tekanan minyak mencapai 1,5 bar yang artinya kabel bisa dibebani, dengan catatan tidak langsung seratus persen. Beberapa penyulang kembali direncanakan untuk dimanuver sehingga kami harus kembali berkoordinasi dengan beberapa pelanggan khusus. Penyulang-penyulang yang sudah direncanakan berhasil dimanuver dan kabel SKTT sudah berbeban.

Hal ini membuat pasokan dari GI Senayan bisa dilepas dan beberapa penyulang spotload bisa dipindahkan kembali ke pasokan dari GI Karet Baru. Akan tetapi, pada Sabtu sore kami mendapat info kembali bahwa tekanan minyak di kabel SKTT berkurang dan masuk batas tidak aman sehingga mengharuskan pengurangan beban. Kami terpaksa memindahkan kembali penyulang yang dilepas dari Trafo GI Bergerak.

Tentu kami harus berkoordinasi kembali dengan pelanggan tersebut. Meski harus menjelaskan lagi dan mengingkari janji yang kami sampaikan sebelumnya ke pelanggan, mereka akhirnya mengerti dan mau bekerja sama dengan syarat dilakukan di tengah malam. Hal ini terjadi beberapa kali sampai hari ini akhirnya seluruh pelanggan dapat dipasok kembali secara normal sambil menunggu perbaikan sirkuit 1 SKTT GI Kebun Jeruk – GI Karet Baru dan penambahan pasokan cadangan dari switchyard SUTT GI Karet Lama.
Sungguh perjuangan yang cukup melelahkan. Sebagai orang yang baru masuk ke Area Menteng dengan kondisi jaringan yang banyak dan rumit serta wilayah yang merupakan ring I dan wilayah VIP tentu kejadian ini menjadi tantangan pertama yang luar biasa. Hal ini menjadi sambutan yang sangat berkesan untuk sang Supervisor Opdist Menteng yang baru.

Terima kasih kepada semua anggota bidang distribusi Area Menteng, manajemen Area Menteng, teman-teman APD baik dispatcher maupun teman-teman APD di GI Karet Lama dan Karet Baru serta teman-teman APP Pulo Gadung yang terus berusaha dan berjerih lelah mengatasi gangguan sistem ini. Mari tingkatkan Koordinasi dan komunikasi di antara kita untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan kita.