Berbagi Pengalaman Indahnya Tinggal di Kota Fakfak

Oleh Sugiri, Supervisor Pengendalian Sistem Meter PLN Wilayah Papua dan Papua Barat

Kabupaten Fakfak atau yang juga familier disebut sebagai Semenanjung Onin, adalah sebuah semenanjung yang terletak di wilayah Papua Barat.

Sungguh merupakan pengalaman batin yang tak ternilai harganya ketika saya diberikan kepercayaan untuk menjabat sebagai Manajer Rayon Fakfak (11 Februari 2011 s/d 21 September 2015). Wilayah kerja PLN Rayon Fakfak melayani 9 Distrik dan 57 Kampung yang membawahi 8 Listrik Desa. Untuk sistem kota, daya mampu pembangkit mecapai 6.250 kilo Watt (kW) dengan disupplay dari PLTD 4700 kW dan PLTM 1550 kW. Beban puncak mencapai 4.500 kW.

Pertumbuhan kelistrikan di kabupaten Fakfak lima tahun terakhir sangat cepat terutama setelah diluncurkannya program Gerakan Sejuta Sambungan Sehari (GRASSS) dan Program Rumah Tangga Sasaran (RTS). Pertumbuhan kelistrikan mencapai rata-rata 18% per tahun. Dari 16.811 rumah tangga, ada sekitar 15.358 yang sudah berlistrik. Rasio elektrifikasi sebesar 82.29%. (tanpa Sehen) dan 91.35% (Plus Sehen).

Untuk meningkatkan kelancaran dari sisi komunikasi, sejak 2012 kami memasang tower antenna repeater di Pulau Panjang dengan menyewa lahan mesjid seharga Rp 350.000,-/bulan. Untuk menyuplay daya listrik kami pasang panel surya 2×100 WP dan baterai kering 2×100 AH, yang dapat beroperasi selama 24 jam nonstop. Pulau panjang adalah sebuah pulau yang berjarak sekitar 10 Mil laut dari daratan Kota Fakfak. Sebelum kami pasang tower repeater di Pulau Panjang, komunikasi dilakukan menggunakan perangkat handphone sehingga kami sering mengalami kesulitan, terutama untuk memantau kondisi petugas di lapangan. Saat ini komunikasi dengan radio HT sudah dapat menjangkau 99 % pada eksisting lokasi Jaringan listrik dengan kualitas signal yang sangat baik.

Beruntung PLN Rayon Fakfak memiliki pembangkit murah biaya dan ramah lingkungan yaitu PLTM Werba dengan kapasitas terpasang 2×1000 kW, yang sudah beroperasi sejak 1998. Meskipun kondisi debit air sangat tergantung dengan curah hujan, namun keberadaan PLTM Werba sangat membantu menekan biaya operasi pembelian bahan bakar berupa solar yang mencapai rata-rata 1.550 KL/tahun.

Tantangan terbesar sebagai insan PLN yang bertugas di Kabupaten Fakfak adalah menaklukkan alam Fakfak yang sangat ekstrim, dimana jaringan listrik ditanam diatas perbukitan batu cadas. Kita banyak menjumpai batu lempengan yang menutup area yang luasnya bisa mencapai 5000 m2 batu lempeng tersebut bersusun. Disamping itu, ratusan pohon produktif tumbuh disepanjang pesisir pantai yang sekaligus sebagai jalur interkoneksi maupun distribusi jaringan listrik PLN.

Musim buah-buahan sekitar Maret dan Mei akan menjadi musim gangguan jaringan. Saat itulah loyalitas dan kesabaran kami benar-benar diuji. Penyulang trip atau black out system sudah menjadi menu sehari-hari. Kelelawar yang jumlahnya ratusan disetiap titik hanya menjadi tontonan karena kami tidak mampu berbuat banyak untuk mengatasinya.
Banyaknya komplain pelanggan yang menjurus ke tindakan anarkis, sehingga memaksa kami untuk melibatkan aparat kepolisian setiap kali terjadi gangguan penyulang. Khususnya apabila terjadi trip Penyulang Danaweria maka petugas piket akan didampingi oleh aparat kepolisian selama 1×24 jam. Aparat kepolisian yang mendampingi petugas antusias ikut mencari titik gangguan sampai penyebab gangguan tersebut ditemukan.

Bangkai-bangkai kelelawar yang mati tersengat listrik 20 kV kami pajang didepan pos gangguan, sehingga dapat disaksikan langsung oleh pelanggan yang komplain.

Acara sosialisasi keliling kampung yang diprakasai oleh Kapolres Fakfak AKBP. HM. Yusuf, SH, MH dan didukung oleh Dandim 1706 Letkol Wahyu Sulistiono, yang melibatkan unsure terkait PLN, DPU, Dinas Sosial, dan Dinas Kesehatan, merupakan salah satu cara yang sangat efektif.

Semua kampung yang dianggap berpotensi anarkis kami kunjugi untuk diberikan sosialisasi. Pada kesempatan tersebut kami manfaatkan seoptimal mungkin untuk menyampaikan pesan-pesan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait pelayanan kepada pelanggan termasuk target kinerja yang harus dicapai.

Pada akhirnya masyarakat memahami bahwa listrik mati ada penyebabnya, dan ada proses untuk menyalakan kembali, tidak ada lagi timbul kecurigaan dan pemahaman yang keliru bahwa listrik mati semata-mata karena dipadamkan oleh PLN.

Jaringan distribusi 20 kV existing system Fakfak adalah kawat telanjang A3C 70 mm2 dan masih banyak diantaranya menggunakan tiang konstruksi 9 m. Struktur penanaman tiang besi yang kedalamannya tidak standart rata-rata 80 s/d 90 cm mengakibatkan bagian selimut tiang tidak tertanam, sehingga hampir semua tiang listrik di Fakfak kondisinya miring dan sangat mengganggu dari sisi estetika.

Untuk mengurangi gangguan jaringan akibat binatang malam, khususnya kelelawar, kami melakukan pemasangan Plitor (topi penutup isolator tumpu). Namun panjang jaringan Penyulang Danaweria yang lebih dari 42 kms, belum semua dipasang plitor. Rabas-rabas pohon yang rutin dilakukan tidak dapat mengantisipasi gangguan kelelawar.

Cara yang paling efektif untuk mengatasi gangguan kelelawar di Rayon Fakfak adalah memperbaiki jaringan distribusi, mengganti konstruksi tiang 9 m menjadi 12 m dan mengganti kawat A3C menjadi A3CS, dan juga memasang plitor pada semua titik konstruksi M5 atau pada Isolator tumpu. Rencana tersebut sudah kami masukkan dalam RKAP namun belum dapat terealisasi.

Sungguh kenangan yang tak akan terlupakan, indahnya kebersamaan di Kota Fakfak, negeri mbaham mata, negeri semenanjung Onin.