Menghadapi Musuh Besar No 4 dan No 5

Saya melakukan live chatting lagi 27 Juni lalu. Kali ini khusus dengan seluruh manajer cabang PLN se Indonesia Barat. Hari masih sangat pagi, apalagi untuk daerah seperti Aceh dan Medan: pukul 07.30. Topik utama chatting hari itu adalah mengenai musuh terbaru PLN, yakni “Musuh Besar No 4”.

Saya mengawali chatting itu dengan satu pertanyaan yang jawabnya dilombakan. Sepuluh jawaban benar yang paling cepat akan mendapat sertifikat. Dalam waktu sekejap banyak manajer cabang yang sudah meng-up-load jawaban. Pertanyaannya memang sederhana: apakah musuh baru PLN yang kita sebut sebagai musuh besar nomor 4 itu?

Alhamdulillah sebagian besar manajer cabang sudah tahu jawabnya: musuh besar No 4 PLN adalah gangguan penyulang. Hanya tiga manajer cabang yang merasa memiliki musuh sendiri. Lomba ini sebenarnya kurang fair. Manajer cabang yang akses internetnya lebih baik cenderung bisa lebih cepat meng-up-load jawaban. Sedang cabang  yang  bandwidth-nya kecil bisa jadi sampai chatting berakhir tidak mampu merebut saluran masuk ke arena chatting.

Pertanyaan berikutnya adalah: karena para manajer cabang sudah tahu siapa musuh terbaru PLN ke depan, berarti   sudah tahu juga latar belakangnya mengapa gangguan penyulang begitu besar, apa saja persoalannya dan bagaimana mengatasinya. Bagaimanakah cara mengalahkan musuh besar No 4 tersebut?

Para manajer cabang kembali berebut masuk ke arena chatting. Semua cara untuk mengalahkan musuh No 4 tersebut umumnya sangat baik. Berarti teman-teman di lapangan benar-benar sudah tahu bagaimana mengatasi banyaknya gangguan penyulang itu. Tapi saya sangat terkesan dengan jawaban dari manajer cabang Rengat, Riau, Bung Agustian. Meski intinya sama dengan jawaban manajer cabang yang lain, tapi jawaban dari manajer cabang Rengat ini terasa lebih “manajer”. Bukan seperti jawaban seorang siswa yang lagi ujian. Bukan pula seperti jawaban dari seorang birokrat yang lagi menyusun program. Bukan seperti jawaban seorang yang hobinya ceramah dan menasehati.

Seorang manajer tidak boleh memberikan jawaban yang normatif dan abstrak. Inilah yang akan membedakan mana seorang manajer dan mana seorang birokrat atau juru ceramah. Seorang penceramah dan yang lain-lain itu tidak pernah dituntut mempertanggungjawabkan ucapannya. Sedang seorang manajer dituntut untuk bisa mengemukakan “bagaimana cara mewujudkannya” dan “kapan mewujudkannya”. Karena itu seorang yang berjiwa manajer tidak akan pernah mengucapkan kata “segera”, “sebentar lagi”, “dalam waktu cepat”, “dengan cara sebaik-baiknya”, “dengan hasil yang maksimal” dan kata-kata abstrak lainnya.

Tengoklah jawaban rekan kita dari Rengat mengenai pertanyaan “bagaimana cara Anda mengatasi banyaknya gangguan penyulang” di daerah Anda. Ini jawaban itu:

Pengalaman untuk menekan gangguan penyulang :

  1. Menyusun rencana kerja per kelompok JTM, Gardu, JTR, SR/APP
  2. Menetapkan target masing-masing unit 1 penyulang dengan gangguan nihil atau penyulang VIP tahun 2011
  3. Menjadikan program Har & Ops Dist sebagai kontark kerja masing-masing SDM atau dimasukan dalam MUK dengan pekerjaan antara lain : inspeksi JTM, pengukuran beban trafo gardu, pemeriksaan SR & APP
  4. Melaksanakan Jum’at peduli dengan melibatkan seluruh staf dan mitra kerja (tanpa bayar)
  5. Gangguan yang sudah turun : penyulang Pasir Ringit : Jan = 2, Feb = 0 Maret = 0, April = 1, Mei = 1, untuk Juni masih nihil. Penyebab gangguan jaringan kendor/andongan terlalu kendor karena jarak terlalu penjang ( menyeberang sungai, kuran lebih 250 meter). Gangguan trafo : Jan = 1, Feb = 1, Maret s/d tanggal 27 Juni 2011 = nihil

 

Dari live chatting yang diikuti 43 manajer cabang ini saya yakin teman-teman di lapangan akan mampu memenangkan peperangan ini dalam waktu tiga bulan Juli-Agustus-September 2011. Selama tiga bulan ke depan seluruh kekuatan, energi dan persenjataan kita kerahkan untuk menundukkan musuh besar kita No 4 itu.

Keyakinan untuk memenangkan pertempuran itu sangat tinggi mengingat selama 1,5 tahun terakhir teman-teman PLN se Indonesia sudah berhasil mengalahkan musuh-musuh besar No 1, No 2 dan No 3. Kalau tiga musuh besar itu saja sudah berhasil dilumpuhkan, adakah alasan untuk tidak bisa memenangkan perlawanan menghadapi musuh nomor 4 ini?

Di antara tiga musuh besar yang sudah berhasil dimenangkan itu yang terbesar sudah tentu musuh No 1, yakni krisis listrik. PLN berhasil mengatasi krisis listrik hanya dalam waktu enam bulan (Januari-Juni 2010). Dalam waktu sesingkat itu kekurangan listrik di seluruh Indonesia tercukupi. Padahal krisis listrik itu begitu gawatnya sehingga pemadaman bergilir yang parah terjadi di seluruh Indonesia. Mulai dari Sabang sampai Merauke.

Memang kalau ada mati lampu seperti yang terjadi sekarang ini, sebagian orang masih mengira bahwa listrik masih belum cukup. Setiap mati lampu dikira karena terjadi pemadaman bergilir. Kesan ini begitu kuatnya di masyarakat mengingat di masa lalu memang latar belakangnya seperti itu. Padahal penyebab mati lampu sekarang ini sudah sangat berbeda. Karena itulah target berikutnya adalah mengatasi penyebab mati lampu seperti itu.

Musuh besar No 2 yang juga sudah berhasil diatasi adalah panjangnya daftar tunggu: 2,5 juta orang. Antrean untuk mendapatkan listrik begitu besar dan masa tunggu itu begitu lama. Ada yang sudah antre listrik sejak lima atau tujuh tahun lalu. Daftar tunggu itu berhasil diselesaikan melalui dua kali gerakan. Yakni gerakan sehari sejuta sambungan (GRASSS) tahun lalu dan GRASSS ke-2 tanggal 17 Juni lalu.

Memang masih ada beberapa daftar tunggu yang tercecer. Tapi tidak sampai menyebabkan gagalnya program ini. Salah satu contoh terjadi di Belitung. Seseorang yang sudah antre listrik tidak mendapat sambungan di saat GRASSS ke-2. Dia mengirim SMS dan menanyakan mengapa tidak dapat sambungan. Ternyata terjadi salah pengertian. Sewaktu petugas PLN melakukan survey ke rumah tersebut, rumah dalam keadaan terkunci. Tidak ada penghuninya. Petugas PLN yang mencoba mengintip dalamnya rumah itu melihat sudah ada bola lampu yang masih menyala. Maka petugas PLN mengira rumah tersebut sudah berlistrik.

Ketika pengalaman petugas itu diceritakan kepada pemilik rumah barulah jelas persoalannya: lampu yang menyala tersebut bukan langsung dari PLN.

Saya yakin kejadian serupa juga masih ada di beberapa daerah. Tapi kejadian seperti itu tidak menyebabkan batalnya pernyataan kemenangan atas musuh besar No 2.

Musuh besar No 3, yakni banyaknya gangguan trafo, juga sudah berhasil dikalahkan. Gangguan trafo yang tahun lalu di setiap cabang bisa mencapai 50 kali sebulan (berarti di cabang tersebut mati lampu 50 kali sebulan) sudah tinggal satu digit. Banyak juga cabang yang sudah bisa mencapai gangguan nol! Yang lebih membanggakan lagi, para manajer cabang ini terlihat lebih akrab bergaul dengan trafo. Setiap ke daerah saya selalu menanyakan di cabang tersebut memiliki berapa ratus trafo, berapa gangguan, dan apakah sudah punya trafo cadangan. Saya bangga bahwa manajer cabang umumnya hafal berapa trafo yang harus dia control dan berapa tingkat gangguannya. Pernah saya marah kepada seorang kepala cabang yang tidak hafal berapa ratus trafo yang harus dia gauli. Akhirnya saya minta maaf karena ternyata dia baru sebulan di situ.

Saya memang gelisah dengan banyaknya gangguan trafo ini. Begitu banyaknya mati lampu akibat trafo rusak ini. Sampai-sampai saya kemudian menetapkan  ganguan trafo adalah musuh besar kita nomor 3. Ketika akhirnya para manajer cabang bisa mengalahkan musuh No 3 itu, rasanya seperti tidak masuk akal. Banyak pertanyaan kepada diri mereka sendiri: kok bisa ya! Tak terbayangkan gangguan trafo yang begitu besar bisa diatasi.

Kini musuh kita di lapangan tinggal satu: musuh besar No 4, gangguan penyulang. Masih begitu banyak mati lampu akibat gangguan penyulang. Penyebabnya begitu beragam. Tapi tidak ada kata menyerah. Gangguan penyulang tidak bisa dibiarkan. Masih ada penyulang yang gangguannya mencapai 15 kali sebulan. Ini berarti setiap dua hari sekali terjadi mati lampu akibat gangguan penyulang. Saya yakin dalam tiga bulan ke depan teman-teman manajer cabang juga bisa mengalahkan  gangguan penyulang ini.

Kita memang masih memiliki beberapa musuh besar lainnya. Khusus musuh “yang sangat khusus” ini menjadi tugas para direksi untuk mengalahkannya. Ini bukan musuhnya para prajurit yang gagah berani di lapangan. Ini musuhnya para jendral di pusat kekuasaan PLN. Musuh yang ini harus dikalahkan dengan cara yang sangat khusus pula.

Musuh jenis apakah gerangan itu? Musuh dalam selimutkah? Silumankah? Harimau yang ganaskah? Belut yang licinkah? Saya tegaskan di sini, musuh itu bernama BBM. Bahan Bakar Minyak!

BBM-lah yang menyebabkan PLN borosnya luar biasa. BBM-lah yang kalau bisa diberantas membuat PLN menghemat 15 triliun rupiah setiap tahun.

Kalau tiga jenis musuh yang pertama itu kita kalahkan dan musuh No 4 pasti akan dikalahkan oleh teman-teman di lapangan, maka musuh dalam selimut itu pun pasti akan dikalahkan oleh jajaran direksi!

Dengan sudah selesainya krisis listrik, dengan tuntasnya daftar tunggu, dengan sudah minimnya gangguan trafo, maka dua musuh beriktunya ini kita bagi dua: teman-teman di lapangan mengalahkan musuh No 4 dan teman-teman direksi mengalahkan musuh besar No 5!Kita berlomba mana yang menang lebih dulu!

 

Dahlan Iskan

CEO PLN