Lima Hari Menjelajah Sorong-Bintuni-Nabire-Timika-Wamena-Digul-Merauke-Jayapura (2)

Awan tiba-tiba datang berduyun-duyun. Jam sudah menunjukkan pukul 12.15. Berarti sudah satu jam kami bercengkerama bersama penduduk suku Wamena di lereng sungai Baliem itu. Termasuk sempat belajar meracik rokok ala penduduk Wamena yang kertas rokoknya terbuat dari daun tertentu yang dikeringkan dan tembakaunya terbuat dari daun yang lain lagi yang dipadatkan. Tapi awan kian gelap saja. Mau tidak mau kami harus segera kembali ke Wamena: kembali harus jalan kaki 15 km melalui halang lintang, tebing, bukit dan jalan setapak yang licin itu. Kalau keduluan hujan bisa-bisa lereng yang terjal menjadi lebih licin lagi.

Dahlan Iskan di tepi sungai Walesi yang dimanfaatkan untuk PLTMH

Meski otot kaki sudah terkuras saat berangkat, awan yang kian gelap memaksa kaki untuk tetap melangkah pergi. Ayunan langkah memang terasa berat, tapi pikiran terasa ringan. Sudah menemukan lokasi ideal untuk membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) skala besar untuk daerah Wamena dan lima kabupaten pegunungan sekitarnya. Proyek ini akan kami namakan PLTA Baliem-2. Kelak ada kemungkinan bisa dibangun proyek Baliem-1 di hulunya dan Baliem-3 di hilirnya.

Proyek Baliem-2 akan memakan biaya Rp 3 triliun. Sebuah bendungan raksasa harus dibangun di situ. Demikian juga terowongan air. Dan yang harus pertama-tama dilakukan adalah membangun jalan di lereng-lereng gunung itu sepanjang 35 km.

Dengan gambaran lokasi seperti itu kesulitan membangun proyek Baliem-2 sudah bisa dibayangkan. Bukan saja tidak ada jalan dari Wamena ke Baliem-2, bahkan tidak ada jalan menuju Wamena itu sendiri. Semua barang harus didatangkan dari Jayapura dengan pesawat. Mulai dari semen, baja sampai beras dan gula.

Karena itu Nasri Sebayang, Direktur Perencanaan dan Teknologi PLN harus membuat desain Baliem-2 yang tidak umum. Untuk membangun 50 MW tahap I saja, mungkin sampai memerlukan 10 turbin. Ini pun harus dengan cara yang rumit. Sebab pada dasarnya pesawat menuju Wamena hanya bisa mengangkut   turbin ukuran 1 MW. Akan dicoba menggunakan turbin 5 MW dengan cara dipreteli. Pasti tidak mungkin. Tidak mungkin menggunakan turbin lebih besar dari 5 MW seperti di Jawa.

Ide-ide untuk bisa mengangkut ribuan ton material ke Wamena terus kami pikirkan. Apalagi pertengahan tahun depan fisik proyek Baliem-2, setidaknya jalan akses, sudah harus dimulai.

Dalam keadaan kelelahan perjalanan pulang ke Wamena ini kami paksakan berbelok dulu ke arah sungai Walesi. Yakni untuk melihat proyek mini hydro: pembangkit listrik tenaga air ukuran kecil. Kami memang merencanakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak listrik Wamena saat ini dengan mini hydro. Sedang proyek Baliem-2 yang baru akan selesai 5-6 tahun mendatang adalah untuk keperluan jangka panjang.

Di sungai Walesi, ada empat mini hydro yang sudah menghasilkan listrik. Satu lagi sedang dalam uji coba. Lalu masih ada dua lagi yang kini sedang dikerjakan pondasinya. Dengan demikian pertengahan tahun depan Wamena sudah mendapatkan sekitar 4 MW dari tujuh mini hydro di Walesi. Ini pun belum cukup. Kota Wamena terus berkembang dengan pesat. Jumlah mobil dan motor kini sudah mencapai 10.000 buah, dua kali lipat dari lima tahun lalu.

Kota Wamena ternyata jauh lebih besar dari yang saya bayangkan. Dan masih terus berkembang. Berarti kebutuhan listriknya terus meningkat.

Karena itu kami akan segera memproses listrik swasta yang ijin lokasinya sudah diberikan oleh Bupati Wamena. Yakni mini hydro sebesar 6 MW yang letaknya sedikit di hilir mini hydro milik PLN di sungai Walesi. Investornya, pengusaha Papua, sanggup mengerjakannya paling lama 18 bulan. Sambil menunggu Baliem-2 kebutuhan listrik Wamena sudah akan terpenuhi 100% dari sungai Walesi.

Ke depan, mesin-mesin genset akan kami matikan. Bukan saja tidak ramah lingkungan, tapi juga sangat mahal. Bahan bakar  untuk genset itu harus diangkut dengan pesawat dari Jayapura. Repotnya bukan main. Juga mahalnya. Tiap 1 kWh listrik memerlukan biaya bahan bakar saja Rp 6.000/kWh. Padahal PLN menjual listrik ke masyarakat hanya dengan Rp 650/kWh.

Saya membayangkan kalau Wamena listriknya sudah cukup akhir tahun depan alangkah kian indahnya kota ini. Juga alangkah majunya. Potensi untuk maju sangat terbuka. Lembah Baliem  bukanlah lembah yang sempit yang terjepit di sela-sela gunung. Lembah ini adalah lembah yang sangat luas, yang dikelilingi puncak-puncak gunung tinggi. Yang satu, puncak gunung Ruphius, tingginya 4.070 meter. Satunya lagi, gunung Van der Villigen, tingginya 3.500 meter. Masih ada gunung lagi, Puncak Trikora, 4.750 meter.

Begitu luasnya lembah ini sehingga potensi untuk berkembang tidak terhambat oleh lahan. Saya perkirakan lembah ini akan mampu menampung kemajuan yang membuatnya berpenduduk 1 juta sekali pun. Kalau listrik cukup, hotel-hotel modern akan tumbuh dengan pesatnya. Wisatawan akan berdatangan. Kota ini tidak boleh menjadi miskin. Kemiskinan hanya akan merusak lingkungan dan keindahannya.

Wamena sebenarnya tidak bisa disebut lembah (valley). Dia lebih tepat disebut dataran tinggi (plateu), karena ketinggiannya yang 1.700 meter. Kini Wamena juga tidak bisa dikatakan sebagai kota yang sulit dijangkau. Jumlah penerbangan ke Wamena terus bertambah. Angkutan manusia praktis tidak ada masalah lagi. Yang jadi persoalan tinggal angkutan barang.

Gagasan membangun jalan darat dari arah utara (dari Jayapura) ke Wamena pernah terwujud di akhir zaman Pak Harto. Termasuk sudah selesai membangun jembatan besar di atas sungai Membaramo yang terkenal itu. Badan jalannya sudah pernah nyambung tapi hancur lagi karena tidak ada biaya untuk mempertahankannya. Memelihara badan jalan sejauh 600 km (hampir sama dengan Jakarta-Surabaya) memang tidak mudah.

Kini muncul gagasan baru: Wamena ditembus dari selatan. Ada sungai besar yang muaranya di Laut Aru tapi hulunya di pegunungan Jayawijaya. Di hulu sungai inilah dibangun pelabuhan kecil untuk kemudian dibangun jalan darat mendaki menuju Wamena. Jaraknya kurang dari 60 km. Dengan demikian barang-barang dari luar Papua diangkut dengan kapal, lalu dipindahkan ke tongkang menyusuri sungai selama 2-3 hari, dan kemudian diangkut mendaki dengan jalan baru menuju Wamena.

Saya sungguh tertarik dengan gagasan baru yang lebih realistik ini.

 

Dahlan Iskan

CEO PLN