(Pontianak. 16/7) Tahukah anda? Listrik Prabayar atau sekarang lebih dikenal listrik pintar, pertama kalinya ada di Indonesia, dipasang di Komplek Pasar Mawar-Pontianak Kalbar. Mulanya, para punggawa PLN Pontianak terinspirasi dari listrik prabayar Afrika Selatan, kemudian dilakukan kajian dan akhirnya pada Agustus 2006, PLN Pontianak memasang 43 meter prabayar dikomplek Ruko Pasar Mawar.
Teknologi yang dipakai adalah teknologi digital protokol STS (Standard Transfer Spesification) dengan sistem token tanpa menggunakan kartu yang saat ini dipakai secara umum di Indonesia. Setelah dievaluasi secara komprehensif dan tidak ada masalah apapun, listrik pintar ini merambah daerah lainnya di Pontianak seperti Pasar Dahlia, rumah dinas dan asrama TNI AD hingga mencapai 1200 pelanggan listrik pintar.
Suksesnya penerapan listrik pintar di Pontianak, menjadi tolak ukur bagi PLN Pusat untuk penerapan di wilayah-wilayah lainnya. Namun, saat ini pertumbuhan listrik pintar di Pontianak, tidak secepat di wilayah lain. Menurut Asisten Manajer Niaga Area Pontianak, Redi Zusanto, pelanggan listrik pintar saat ini, hanya 33.089 pelanggan dari jumlah pelanggan 322.123.
“Pelanggan listrik pintar se-Kalbar pun hanya 78.568 pelanggan. Saya akui, pertumbuhan jumlah pelanggan listrik pintar di sini memang lambat. Ini disebabkan, adanya resistansi dari masyarakat karena awalnya meter prabayar ini ditujukan untuk memberikan punishment bagi pelanggan yang menunggak harus beralih pada meter prabayar, dan pada waktu itu harga kwhnya pun cukup mahal karena menggunakan tarif multiguna yaitu Rp. 1380 per kwh. Namun saat ini, kami gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat, karena harga listrik pintar per kwhnya mengacu pada tarif dasar listrik terbaru,” tutur Redi kepada Fokus, Senin (16/7) di ruang kerjanya.
Susanti (49 tahun), penjual kopi “Warung Alak” di Pasar Mawar, mengakui sejak dipasangnya listrik pintar 6 tahun lalu, tidak ada masalah teknis pada kwh meternya. “Saya bersyukur memiliki listrik pintar, karena saya bisa melihat penggunaan listrik setiap bulannya, sehingga saya bisa berhemat. Bahkan sampai saat ini tidak mengalami gangguan sama sekali, untuk mengisi tokennya pun sangat mudah,” kata perempuan berdarah tiongkok itu.
Lain halnya dengan Sihombing (45 tahun), Agen beras di Pasar Mawar, merasakan ada perbedaan harga listrik yang menurun dari sejak dipasangnya hingga saat ini. Rencananya, Sihombing akan melakukan migrasi dari meter konvensional ke meter prabayar yang dipasang di rumah tinggalnya.







