Perang Bocor…Apa Itu?

Oleh : Ngurah Adnyana-Direktur Operasi Jawa Bali

Dengan hasil PPJB-2 yang terlihat mengesankan maka agar semangat berperang di Jawa Bali tetap membara, harus diciptakan perang baru Pak. Itulah salah satu usulan menarik pada Raker Direktorat Operasi Jawa Bali di Surabaya tgl 12-13 Juli 2012 yang disampaikan Pak Haryanto WS – GM Distribusi Jatim.

Memang setelah sukses menjalankan Perang Padam Jawa Bali jilid 1 (PPJB-1) pada tahun 2011 dimana gangguan pembangkit (EFOR), gangguan trafo, transmisi, penyulang dan kubikel 20 kV turun dengan sangat mengesankan di atas 60%, maka pada awal tahun 2012 PPJB-1 diteruskan dengan PPJB jilid 2. Dalam PPJB-2 area pertempuran diperluas dengan menjadikan gangguan temporer, gangguan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) dan Sambungan Rumah (SR) menjadi musuh bersama (common enemy). Hasilnya pun secara umum cukup mengesankan.

Untuk menjawab usulan pak Haryanto, kali ini saya ingin berbagi tentang ‘perang baru’ di Jawa Bali.

Lho …. perang baru? Perang apa pula ini? Musuhnya apa, siapa, dan ada dimana?
Mari kita pahami dulu filosofinya.

Proses jual beli tenaga listrik dimulai dengan membangkitkan tenaga listrik di pusat-pusat pembangkit listrik seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), PLTDiesel, PLTGas, PLTGas dan Uap, PLTPanas Bumi, dan PLTAir. Untuk yang skala kecil ada PLTBayu (angin), PLTSurya, PLTSampah, PLTBiomas dan lain-lain.

Dari pusat pembangkit, listrik disalurkan ke Gardu Induk Tegangan Extra Tinggi (GITET) atau Gardu Induk (GI). Kemudian dari GI disalurkan ke penyulang (feeder) 20 kV, terus melalui trafo distribusi tegangan diturunkan dari 20 kV menjadi tegangan rendah 220 Volt dan akhirnya disalurkan ke pelanggan.

Setelah listrik diterima oleh pelanggan, PLN wajib mengukur berapa energi listrik yang dikonsumsi oleh pelanggan dan kemudian ditagihkan dalam bentuk rekening listrik. Pelanggan membayar rekening listrik melalui berbagai macam media seperti loket pembayaran rekening, auto debit, ATM dan diproses di infrastruktur rekening (billing) PLN seperti Payment Point Online Bank (PPOB), Aplikasi Pelayanan Pelanggan Terpadu (AP2T), dan Pengelolaan dan Pengawasan Arus Pendapatan Secara Terpusat (P2APST). Selanjutnya uang pembayaran rekening listrik masuk ke rekening kas PLN di bank-bank yang bekerja sama dengan PLN.

Begitulah proses bisnis penjualan listrik PLN. Pertama, proses penyaluran energi listrik dari pembangkit sampai ke pelanggan. Kedua, proses pendapatan PLN yang dimulai dari pembacaan meter, penagihan dan pembayaran rekening listriknya, melewati beberapa tahapan proses, melibatkan beberapa pihak di luar PLN dan tentunya juga dengan menghadapi resiko di sepanjang proses tadi.

Pertanyaannya, apakah kita sudah yakin di sepanjang kedua proses tadi semua proses berjalan mulus, akurat dan tidak ada kebocoran? Yakinkah kita bahwa di sepanjang proses penyaluran listrik tidak terjadi kebocoran dalam bentuk susut energi atau losses yang berlebihan? Yakinkah kita bahwa dalam pembacaan meter kWh perhitungan rekening listrik sudah akurat? Yakinkah kita selama proses penagihan, pembayaran tagihan rekening listrik sampai uang tagihan rekening listrik masuk ke kas PLN sebagai pendapatan PLN tidak ada kebocoran?

Untuk meyakinkan kita bahwa kedua proses tadi menjamin pendapatan (revenue) PLN, maka perlu dilakukan langkah-langkah atau program ‘menjamin pendapatan’ yang dalam istilah manajemen disebut Revenue Assurance atau disingkat Revass. Dalam program Revass ini kita memerangi kebocoran yang mungkin terjadi di sepanjang kedua proses tadi.
Inilah jawaban pertanyaan pertama “apa filosofi atau latar belakang kenapa program Revenue Assurance diterapkan di PLN ?” yang saya ajukan kepada para OPI (Operation Performance Improvement) Local Coach pada forum tanya jawab Q/A tentang Revass di Bandung dan Jakarta minggu lalu.

Revenue Assurance (Revass) atau Perang Bocor?
Dari pada disebut program Revass – kata Revass ini tidak pernah ada dalam kamus Bahasa Indonesia – maka biar lebih menggigit dan membumi program Revenue Assurance ini kita sebut saja Perang Bocor karena yang diperangi adalah kebocoran energi dan pendapatan sebagai musuh kita bersama. Dan karena mulai diterapkan di Jawa Bali, maka agar lebih spesifik program ini disebut Perang Bocor Jawa Bali (PBJB).
Di daerah mana saja medan pertempuran Perang Bocor ini?

Untuk memerangi kebocoran kedua proses di atas, PLN sudah meminta jasa konsultan Ernst & Young (EY) untuk merumuskan medan pertempuran PBJB ini. Setelah berdiskusi dengan PLN, ditetapkanlah empat medan pertempuran Perang Bocor ini yang harus dimenangkan PLN yaitu :

  1. Memastikan penyaluran energi listrik dari GI sampai ke pelanggan dengan susut energi di jaringan distribusi seminimal mungkin. Medan pertempuran menekan susut energi ini disebut Rekonsiliasi Energi.
  2. Memastikan bahwa pelanggan dikenakan tarif sesuai dengan peruntukannya. Medan pertempuran ini disebut Rekonsiliasi Komersial.
  3. Memastikan bahwa data yang tercatat di PLN dalam bentuk Daftar Induk Langganan (DIL), Arsip Induk Langganan (AIL) dan data yang terpasang di pelanggan adalah sama. Medan pertempuran ini disebut Pembenahan Data Pelanggan.
  4. Memastikan bahwa proses pembacaan meter, pencetakan rekening, penagihan, pembayaran rekening sampai uang masuk kas PLN sebagai pendapatan PLN yang prosesnya sangat mengandalkan aplikasi IT harus aman dan terkendali. Medan pertempuran ini disebut Pembenahan Infrastruktur Proses Bisnis.

Itulah empat medan pertempuran yang harus dimenangkan oleh PLN khususnya oleh teman-teman di Unit Distribusi PLN.

Untuk tahap awal PBJB ini wajib dilaksanakan di PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten serta PLN Distribusi Jaya dan Tangerang pada masing-masing lima Area sebagai pilot project. Di kedua unit ini kontribusi pendapatannya mencapai lebih dari Rp 5 Trilyun/bulan atau sekitar 50% pendapatan PLN se-Indonesia. Adapun PLN Distribusi Bali -sesuai hasil penilaian EY- yang dengan e-Map nya dan kesesuaian DIL-AIL-data lapangan sudah lebih siap dalam melaksanakan rekonsiliasi energi, pembenahan data pelanggan dan rekonsiliasi komersial, juga diminta langsung melaksanakan PBJB ini. Sedangkan PLN Distribusi Jatim dan PLN Distribusi Jateng pada semester ini mulai menyiapkan diri dan akan memulai PBJB ini pada awal tahun 2013.
Kenapa melibatkan OPI Coach?

Pertanyaan kedua inilah yang saya ajukan kepada para OPI Local Coach pada acara tanya jawab Q/A : “Kenapa dalam melaksanakan Perang Bocor ini melibatkan para OPI Local Coach ?”

Atas pertanyaan ini, para OPI Coach yang mewakili lima Area secara umum menjawab : “Karena OPI itu metodenya bagus, sistematikanya bagus, telah terbukti berhasil merubah metode kerja yang selama ini dipergunakan PLN, dan seterusnya.” Jawaban ini benar dari sisi OPI-nya. Tapi ada satu lagi tujuan penting melibatkan OPI Coach dalam penerapan Perang Bocor ini yang perlu dipahami.

Kebiasaan selama ini kalau inisiatif program dari PLN Pusat dan bersifat top-down process, programnya disosialisasikan oleh Tim Pusat ke Unit Induk. Kemudian Tim Unit Induk mensosialisasikan ke Unit Pelaksana. Dengan metode ini dianggap program tersebut akan bisa terlaksana secara efektif. Kenyataannya, metode sosialisasi bertingkat seperti ini hanya menghasilkan pemahaman 20% di tingkat Unit Pelaksana dan hasil akhirnya bisa jadi hanya 10%. Hasil metode ini juga terlihat pada fase awal penerapan Revass (sebelum disebut Perang Bocor). Teori Revass disosialisasikan ke Unit Induk, kemudian ke Unit Pelaksana. Setelah dicek oleh konsultan, hasil penerapan di lapangan hanya efektif 20% dari skenario yang direncanakan.

Atas pengalaman inilah metode penerapan Perang Bocor ini harus dirubah dengan memakai “pengawal” dan pasukan pengawal ini adalah OPI Coach. Para Coach inilah yang diharapkan bisa mengawal, menagih, mengkoreksi dan meluruskan penerapan Perang Bocor agar berjalan efektif.

Metode “pengawal” oleh OPI Local Coach ini sudah terbukti efektif di lapangan. Saat saya ke Yogyakarta pada acara Leadership Engine for Execution Capability Improvement (LE4ECI) awal Juli 2012, setelah berkunjung ke GI Kentungan bersama pak Subuh – Manajer Area Yogyakarta, saya kembali ke kantor Area dan berbincang dengan teman-teman di Area Yogyakarta. Dengan bersemangat Pak Supriyadi – Asman Distribusi Area Yogyakarta melaporkan penurunan gangguan penyulang di Area Yogyakarta pada semester I – 2012. “Pak, gangguan penyulang kami turun 40% Pak.” Ketika saya teliti datanya memang turun 40%. Ini bukti budaya trust sudah berjalan. Tapi setelah saya teliti lagi, ternyata gangguan triwulan I turun 25% dan triwulan-II turun 60%.

Lalu saya tanya : “Kenapa gangguan triwulan II turunnya jauh lebih banyak dari penurunan triwulan I ?“Pak Supriyadi spontan menjawab : “Iya Pak, kami diuber-uber oleh OPI Coach. Kami malu diuber-uber teman-teman OPI Coach yang muda-muda ini. Mereka selalu menagih pelaksanaan dari rencana yang kami buat. Tapi hasilnya lumayan Pak … gangguan jadi banyak turun” berseri-seri wajah Pak Supriyadi. Wow….bravo OPI Coach dan bravo Area Yogyakarta.

Pada pertemuan itu ada beberapa ibu-ibu yang sudah senior ikut hadir. Saya tanyakan juga kepada ibu-ibu itu “Bu, apakah ibu-ibu bisa menerima kehadiran dan kegiatan para anak-anak muda yang ditugaskan sebagai OPI Coach ini ?” Di luar dugaan ibu-ibu menjawab “Kami senang dengan kehadiran yang muda-muda Pak karena bisa menularkan semangat kepada kami yang tua-tua….” Wow ini hebat, yang senior bisa menerima yang junior. Malah seorang ibu lain nyeletuk “Kami juga bersyukur Pak, karena satu anak muda itu sudah menjadi menantu saya…..he..he.” Lalu kami semua tertawa…he..he….

Jadi itulah yang diharapkan dari keterlibatan OPI Coach dalam penerapan Perang Bocor. Menerapkan metode kerja yang sistematis sekaligus mengawal eksekusi di lapangan. Harapan lebihnya bisa menularkan semangat muda kepada pegawai yang senior. Kalaupun akhirnya diambil menjadi mantu, tentu lebih bersyukur lagi…. nyatanya memang tidak sedikit pegawai muda PLN yang diambil mantu oleh para GM-nya.

Kalau awal Perang Bocor ini berhasil, maka kita bisa melipatgandakan kemenangan di saat bulan puasa ini. Menang melawan musuh kebocoran energi dan pendapatan PLN, sekaligus menang melawan musuh hawa nafsu.

Selamat melaksanakan ibadah puasa bagi Saudara-saudaraku yang melaksanakannya.

Jakarta, 22 Juli 2012