Tapal Kuda

Oleh : Ngurah Adnyana – Direktur Operasi Jawa Bali

Kalau mendengar istilah Tapal Kuda, pasti banyak orang bertanya maksudnya apa ? Bagian mana dari Kuda ? Tapi kalau orang Jawa Timur ditanya istilah Tapal Kuda, maka mereka langsung paham bahwa yang dimaksud tapal kuda adalah suatu wilayah yang berbentuk Tapal Kuda di daerah Jawa Timur bagian Timur – Utara sekitar Probolinggo, Situbondo, Bondowoso sampai ke Banyuwangi. Kali ini saya mau cerita kunjungan saya ke daerah Tapal Kuda di akhir November 2012 ini.

Siang itu hujan turun cukup lebat, ketika kami – saya, pak Agung Surana – Manajer Area Banyuwangi, Pak Arif – Manajer Area Situbundo dan Pak Iwan – Manajer APP Probolinggo – sampai di Rayon Wonosari yang berlokasi antara Situbondo dan Bondowoso. Saya lihat beberapa orang PLN memakai semacam ikat kepala atau destar yang dipakai masyarakat Bali. Lho, ngapain mereka pakai destar ? Lha yang perempuan juga pakai destar ? Ini tidak umum berlaku di Bali. Setelah lebih dekat lagi, baru saya tahu bahwa yang dipakai itu bukanlah destar tapi semacam mahkota – yang biasanya dikenakan pada pemenang Miss World atau Putri Indonesia. Mahkota itu terbuat dari vinyl yang anti air. Pada mahkota itu tertulis “Lestrek modhe tak usah pengadek” Ini bahasa Madura yang memang banyak dipakai di daerah Tapal Kuda. Tapi jangan salah baca ! Pada kata pengadek, ek disini tidak di baca seperti kita menyebut kata bebek (duck), tapi ek seperti kita menyebut kata ‘ngambek’. Kalau salah baca, bisa salah artinya dan orang Madura bisa marah. Pak Arif itu orang Madura. Tapi katanya Maduranya Pamekasan yang tidak bisa berbahasa Madura ngoko……!

Lalu artinya apa, maksudnya apa ?

Ternyata “Lestrek modhe tak usah pengadek” itu artinya “Listrik murah nggak pakai calo.” Ini dimaksudkan sebagai upaya sosialisasi ke masyarakat agar kalau minta sambungan listrik langsung ke PLN tidak usah pakai calo. Ini upaya bagus ! Penggagasnya Sdr. Dachlan (pakai c dan nggak pakai Iskan…..). Tidak ada hubungan keluarga dengan Pak Dahlan Iskan, tapi gerakannya mirip-miriplah… Jago memasarkan dan berani melaksanakan idenya. Achmad Dachlan ini Manajer Rayon Wonosari masuk PLN tahun 2006 dan juga OPI Coach di Rayon Wonosari. Ini juga bukti anak muda PLN punya potensi untuk membuat perubahan positif di Unitnya masing-masing.

Selain Rayon Wonosari, Unit lain yang saya kunjungi : Area Banyuwangi yang pada Kompetisi Yantek (Pelayanan Teknik) Harlisnas 2012 lalu mendapat peringkat 2 se-Indonesia, hanya kalah dari Area Bali Timur. Saya juga mengunjungi Rayon Rogojampi di Banyuwangi yang sudah mulai tekun mengupdate data jaringan distribusinya sebagai persiapan membangun asset management.

Di Situbondo saya mengunjungi Area Situbondo yang punya tekad mengalahkan Yantek nya Banyuwangi pada Kompetisi Yantek tahun depan. Area Situbondo juga bertekad membuat dua Rayon nya yaitu Rayon Penarukan dan Rayon Bondowoso untuk naik peringkat menjadi Rayon bintang 5. Penilaian Rayon bintang 1 sampai bintang 5 ini kreasinya PLN Distribusi Jatim untuk memberi peringkat pada Rayon di Jawa Timur yang berjumlah 113 Unit Rayon.

Saya juga mengunjungi Rayon Asembagus dan Rayon Panarukan. Terakhir saya mengunjungi Rayon Bondowoso yang dipimpin Sdr. Sigit – anak muda, tapi pejabat tinggi – maksudnya tinggi badannya di atas 180 cm. Rayon Bondowoso yang bersama Rayon Panarukan sedang berusaha keras mencapai peringkat Rayon bintang 5, juga punya Academy Yantek – tempat pelatihan tenaga pelayanan teknik sebelum tenaga outsourcing Yantek itu melaksanakan pekerjaan pelayanan teknik di lapangan.

Pada unit penyaluran, saya juga mengunjungi GI Banyuwangi, GI Situbondo dan GI Bondowoso. Ketiga GI ini bisa melayani beban yang ada. GI Banyuwangi baru mendapat tambahan kapasitas trafo dan saat ini sedang dibangun satu trafo lagi. GI Bondowoso masih anteng dengan dua trafo dengan beban masing-masing di bawah 50%. GI Situbondo juga baru mendapat tambahan satu trafo.

Yang masih masalah adalah proteksi trafo baru di GI Situbondo. Proteksi tipe SAS (Sub-station Automation System) ini belum bisa dioperasikan karena terlalu canggih. Di beberapa GI lain di Jawa, trafo baru dengan proteksi SAS ini juga masih terkendala sehingga menyebabkan trafo baru belum bisa dioperasikan ! Di negara Eropa pun proteksi tipe SAS ini belum dipergunakan. PLN harus belajar dari pengalaman buruk ini. Sudah dibeli tapi belum bisa dimanfaatkan. PLN mestinya membeli barang sesuai kebutuhan dan kesiapan PLN, bukan sesuai penawaran dari vendor !!

Satu hal menarik dari sisi penyaluran adalah gangguan transmisi karena layang-layang, turun drastis 67 % dari 9 kali (2011) menjadi 3 kali (2012). Daerah tapal kuda ini khususnya Situbondo terkenal dengan masyarakatnya yang suka main layang-layang, layang-layang besar yang di ujungnya memakai kawat sebagai pengganti benang. Masyarakat menginapkan layang-layangnya semalaman dan bila anginnya mengendor, layang-layang jatuh. Kawatnya menimpa saluran transmisi atau serandang Gardu Induk (GI). Terjadilah listrik padam sangat luas. Untuk mencegah gangguan ini, teman-teman P3B melakukan pendekatan non-teknis yaitu mendekati Pemda dan DPRD yang akhirnya berbuah dengan diterbitkannya Perda – Larangan bermain layang-layang dengan benang kawat di sekitar GI dan jaringan Transmisi. Dengan pendekatan yang sama, dari MUI juga terbit fatwa haram bermain layang-layang dengan benang kawat.

Tapi walaupun sudah ada Perda dan fatwa, terkadang masyarakat masih bandel bermain layang-layang di dekat GI dan transmisi. Nah kalau terjadi gangguan karena layang-layang maka teman-teman P3B berkoordinasi dengan teman-teman Distribusi untuk membiarkan listrik padam lama-lama pada masyarakat yang bandel ini, termasuk kantor Bupati dan DPRD-nya. Dengan metoda ini, orang-orang yang bermain layang-layang akan diawasi oleh masyarakatnya sendiri sehingga gangguan karena layang-layang bisa turun drastis.

Bagaimana dengan perkembangan OPI di Unit ?

Dari perjalanan ini saya juga menyaksikan sendiri perkembangan OPI sangat baik dan sudah terlihat denyut positifnya di Unit-unit Area sampai ke Rayon. Semua unit sudah punya OPI Coach, yang umumnya anak muda, koordinatornya saja yang lebih senior. Budaya 5S juga sudah digerakkan di Unit-unit. Tapi belum terlihat gerakan intensif di GI. Saya sering mengomentari bahwa teman-teman P3B itu terlalu ‘maskulin’ termasuk karyawatinya ! Terlalu teknis, sehingga sampai mengabaikan kegiatan non-teknisnya. Padahal harus ada keseimbangan antara teknis dan non teknis, dan juga harus bisa saling mendukung. Tapi waktu saya ke Malang bulan lalu, ternyata di APP Malang, saya lihat sudah bergerak budaya 5S nya. Saya belum mengunjungi Kantor APP Probolinggo. Mudah-mudahan Pak Iwan dan rekan-rekannya di Probolinggo sudah intensif menggerakkan OPI dan budaya 5S nya.

Kalau semua Unit sudah ber-OPI ria, maka secara kuantitas OPI sudah berhasil. Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan sisi kualitas dan keberlanjutan (quality and sustainability) OPI ?

Inilah tantangan untuk Manajer Unit bersama OPI Coach untuk menjawabnya. Semua bekal OPI sdh diberikan. Tinggal memanfaatkan bekal itu untuk membangun kualitas berupa perbaikan kinerja unitnya masing-masing dan tentunya kinerja perusahaan PLN tercinta.

Untuk mengukur kualitas OPI, tahun 2013 akan mulai diterapkan metode pengukuran GML (Governance Maturity Level) – tingkat kedewasaan melaksanakan OPI. Jadi kualitas penerapan OPI, juga akan diukur dan dinilai.

Waktu saya berkunjung ke Area Malang di Rayon Malang Kota, budaya 5S sudah diterapkan dengan berkualitas ! Selain menstandarkan penempatan dokumen, berkas pekerjaan, peralatan kerja, petunjuk arah dll (standarisasi adalah tingkatan tertinggi dari budaya 5S), di bagian umum Rayon Malang Kota sudah bisa mencari arsip dokumen dalam waktu hanya 15 detik ! Inilah salah satu wujud 5S berkualitas. Saya belum pernah menemukan standar kecepatan seperti ini di Unit lain.
Bravo Rayon Malang Kota…!

Bagaimana dengan kualitas OPI di Unit lain ?

Alangkah baiknya kalau para Manajer Unit atau OPI Coach menyampaikan via e-mail ke BOD Note ini untuk menjawab pertanyaan, apakah OPI anda sudah berkualitas? Ditunggu!