Berkubang Oli Namun Tetap Wangi

Adalah Adi Riyanto, ayah 2 orang anak kelahiran Madiun Jawa Timur, 49 tahun lalu. Memulai karir di PLN sebagai pegawai di Cabang Banjarmasin, sebelum akhirnya bertugas sebagai operator mesin pembangkit di PLTD Banua Lima selama ± 7 tahun. Pria sederhana berperawakan sedang ini juga penyayang binatang, terutama kucing. Untuk memelihara hewan pun ia tetap toleransi terhadap tetangga, seperti saat ingin memelihara ayam. Sewaktu tinggal di kota Rantau karena halaman yang tersedia cukup, hingga memungkinkan untuk memelihara ayam. Namun kini karena lingkungan rumah kontrakannya padat penduduk, takut tetangga terganggu bau ayam, cukup pelihara kucing saja imbuhnya.
Tahun 2004 ia dimutasikan ke PLN Kotabaru. Untuk mengisi waktu lowong saat 2 orang putra mereka menuntut ilmu di pulau seberang (yang pertama di Teknik Informatika Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan yang kedua di Sastra Jepang Universitas Panjajaran Bandung), Sunarti – istri Adi begitu biasa ia disapa, sejak 2 tahun terakhir ini mengelola Kantin PLN Cabang Kotabaru. Selain menyalurkan kesenangan memasak dan mendapatkan kesibukan yang menguntungkan, juga tetap dapat melayani suami serta rekan-rekan sekantor yang membutuhkan makanan & minuman pengisi perut.
Jiwa sosial Adi juga menular pada keluarganya, apapun yang bisa dilakukan pasti ia ingin berbagi. Istrinya suka memasak dan suka ngajak makan tetangga sekitar, apapun yang dimasak yang penting bisa berbagi dengan kawan disekitar. Termasuk kalau makan di warung, teman-temannya bilang selama ada Adi pasti ia yang akan bayar. Adi hanya berkomentar selama cukup untuk membayar kenapa tidak, toh untuk makan bersama juga. Pemikiran sederhana yang dimiliki orang berhati mulia.
Urusan karir, tidak mikirlah katanya, jalani apa yang ditugaskan. Karena Adi bertugas di bagian operasi pembangkitan, otomatis hari sabtu minggu pun ia siap bila terjadi gangguan pada mesin pembangkitnya. Total all out karena loyal pada perusahaan.
Pada tahun 2010, Adi berhak mendapat BPRD (Biaya Pengosongan Rumah Dinas) atas rumah dinas yang ditempatinya selama bertugas di PLTD Banua Lima sejak 1991 s.d. 1997 sebesar Rp 12 juta. Namun karena sudah dirasakannya perusahaan telah begitu banyak memberi berbagai macam fasilitas dan kesejahteraan selama jaman susah katanya, sehingga uang tersebut pun ditolaknya. Banyak orang yang berbuat baik, namun masih jarang orang yang sadar kalau orang lain itu sudah berbuat baik. Rasanya sayang kalau hanya segelintir orang yang tau diantara sekian ribu pegawai PLN diseluruh Indonesia, terselip seorang Adi Riyanto yang mengabdi dengan penuh dedikasi dan tulus untuk perusahaan tercinta. Tanpa banyak menuntut, merasa cukup atas anugerah yang telah diterima. Syukur bukan hanya menerima apa yang ada ternyata syukur bisa berarti menolak karena sudah terlalu banyak diberi. Itulah…Adi Riyanto…