Listrik Lampung Siap Layani Investasi

Bandar Lampung,

 

Minggu, 22 April 2012 06:22

KRISIS listrik di Lampung hampir berakhir. Defisit daya yang selama ini menjadi masalah utama segera teratasi dengan siapnya PLTU Tarahan dan PLTG Ulubelu. 

Pemadaman listrik di Lampung masih sering terjadi. Keluhan masyarakat akan layanan PLN yang disampaikan melalui media massa juga terus mengalir secara sporadis. Namun, kondisi ini sudah jauh lebih baik dari dua tahun lalu.

Soal keluhan dan pemadaman hanya masalah teknis biasa. Sedang akar masalah sesungguhnya adalah ketersediaan setrum yang jauh dari permintaan. Kini, dengan beroperasinya beberapa pembangkit di Lampung, PT PLN wilayah Lampung tidak lagi kekurangan daya. Bahkan, dalam tahun 2012 ini Lampung segera memasuki era surplus daya listrik.

Dengan amunisi yang cukup, bagaimana PLN dapat memberi layanan terbaik kepada masyarakat? Berikut petikan wawancara wartawan Lampung Post Sudarmono dengan General Manager PLN Wilayah Lampung Dyananto, dua pekan lalu.

 

Persoalan listrik di Lampung cukup pelik. Ada kasus KLP, ada insiden Dipasena. Sementara pemadaman dan keluhan konsumen juga masih terus. Bagaimana kondisi sesungguhnya?

 

Yang sesungguhnya, listrik di Lampung aman. Kondisi ini jauh lebih baik dari, mungkin, beberapa tahun lalu. Kalau dulu, masalah kita adalah defisit daya yang cukup ekstrem sehingga PLN tidak bisa berbuat lebih. Kalau sekarang, ketersediaan daya relatif sudah teratasi.

Angka riilnya, ada di presentasi saya kemarin. Tetapi secara global, kita masih surplus sekitar 28 mw. Sekarang, sedang dimasukkan Tarahan Baru dengan 55 mw. Terus, dari Tarahan Lama yang sedang dalam perawatan rutin, masuk lagi 100 mw, maka kita punya surplus sekitar 183 mw. Jadi, ini kondisi kita aman.

 

Artinya, kalau ada pemadaman dan berbagai keluhan itu bukan karena masalah defisit ya?

Bukan. Itu masalah teknis kelistrikan di lapangan. Sebab, listrik ini sudah menjadi kebutuhan primer yang sangat sensitif. Maksud saya, ketika listrik padam 5 detik saja, hampir semua orang tahu. Apalagi kalau malam hari. Itulah yang membuat PLN sebagai penyedia listrik ini sangat rentan dari gangguan opini publik.

 

Itu juga artinya PLN belum bisa memberikan layanan teknis yang sempurna?

Sekali lagi, listrik ini hajat sensitif. Begitu banyak faktor teknis dan nonteknis yang sangat mudah mengganggu penyaluran listrik ke pelanggan.

Anda tahu, jaringan listrik kita yang menggunakan tiang-tiang listrik belum mendapatkan perlakuan memadai dari masyarakat. Apalagi di desa-desa, kadang-kadang pohon di depan rumahnya minta ganti rugi jika kita akan pangkas karena bisa mengganggu kabel. Padahal, itu juga untuk kepentingan bersama. Nah, begitu dahan patah menimpa kabel, lalu listrik padam, mereka marah. Lha, bagaimana?

Faktor alam juga sangat besar. Hujan deras, petir, banjir, angin kencang, dan masalah teknis itu bukan sepenuhnya karena PLN. Jadi, itu bukan masalah besar.

Tetapi, apa pun, saya sebagai pimpinan di PLN Lampung tetap menyampaikan permohonan maaf.

 

Dengan kondisi surplus, apa yang akan Anda lakukan?

 

Ini penting saya sampaikan kepada publik. Ada beberapa pembangkit lagi yang segera masuk pada Mei 2012 ini. Di antaranya dari geotermal Ulubelu. Itu artinya surplus kita cukup besar.

Oleh karena itu, bagi para pengusaha, baik dari dalam maupun luar negeri, yang berniat berinvestasi di Lampung dan membutuhkan energi listrik, silakan menghubungi PLN. Sebab, kami sudah siap dengan daya listrik yang diproduksi di Lampung.

 

Berarti saat ini tidak ada daftar tunggu pemasang baru listrik, ya?

Tidak ada. Semua kami layani karena daya kita cukup. Kalaupun ada yang mengeluh melalui surat kabar karena sudah mendaftar tetapi belum terpasang, kemungkinan hanya persoalan administrasi. Dan itu seharusnya tidak terjadi lagi karena semua proses itu sudah dilakukan secara online.

Satu lagi, saya mendapat keluhan, ada warga satu desa mengaku sudah mendaftar pasang baru dan sudah membayar, tetapi tak kunjung menyala. Setelah diusut, ternyata mereka tertipu oleh oknum calo dan tidak mendaftarkan calon pelanggan itu.

 

Tetapi masih banyak berita atau surat pembaca permintaan agar listrik PLN bisa hadir di desanya. Bagaimana ini?

Begini, ya. Jaringan listrik memang berbiaya cukup tinggi. Jangkauan PLN tidak secepat keinginan masyarakat. Selama ini, PLN sedang fokus kepada pembangunan pembangkit.

Saya hanya ingin mengatakan, permintaan itu belum dapat terealisasi karena jaringan yang belum masuk. Tetapi itu tetap akan menjadi perhatian kami. Sebab, dedikasi PLN adalah untuk melayani rakyat. Seperti tagline PLN, “Listrik untuk Kehidupan yang Lebih Baik.”

 

Dulu, ada masyarakat yang bersedia menyediakan infrastruktur sendiri, seperti tiang listriknya dan lainnnya. Bagaimana sekarang?

 

Tentu itu baik dan kami mendukung, bahkan berterima kasih. Kami juga sering mengajak pemda untuk mendukung pemerataan listrik ini. Kalau pemda memfasilitasi, kita akan dengan senang hati. Sebab, daya listrik yang ada ini juga kewajiban kami untuk menjualnya. Kalau idle, kami juga rugi.

 

Soal KLP Sinar Siwo Mego di Lampung Tengah, Metro, dan Lampung Timur, bagaimana progresnya?

Per 1 Mei 2011, seluruh pelanggan KLP itu statusnya sudah menjadi pelanggan PLN. PLN akan menggunakan jaringan KLP. Namun, masalahnya jaringan KLP standarnya tidak sesuai dengan standar PLN. Itu yang membuat layanannya sering terganggu. Dan sekarang, PLN sudah membangun jaringan baru dan sudah 90 persen. Mudah-mudahan segera selesai.

 

Soal urusan administrasinya?

Sebetulnya sudah ada formulanya yang disepakati, tetapi urusan keuangan dan lain-lainnya itu kan memang tidak semudah yang dibayangkan.

 

Kasus yang relatif baru adalah soal Dipasena yang warganya “memaksa” PLN masuk dan menggantikan inti dalam penyediaan listrik. Bagaimana perkembangannya?

Dipasena progres pembangunan jaringan sudah sampai ke AWS Tata Kota. Tadi baru saja saya menerima utusan Bupati Tulangbawang yang mengurusi masalah ini.

Saat ini, PLN sudah siap memasok daya sampai 18 Kva, tetapi hanya untuk penerangan, bukan untuk budi daya.

 

Dua masalah ini, KLP dan Dipasena mungkin tidak ada di tempat lain. Sebagai pemimpin, bagaimana Anda memaknai?

Saya selalu bekerja dengan sepenuh hati dan dengan senang hati. Jadi, setiap masalah yang muncul dan harus saya hadapi, adalah amanah.

Soal KLP dan Dipasena yang dianggap pelik, bagi saya itu adalah tantangan tugas yang berbeda. Ini adalah media pembuktian, apakah saya bisa menyelesaikan masalah ini. Artinya, bagi saya, tugas yang lebih berat dari biasanya itu adalah pijakan bagi saya untuk lebih baik.

 

Dari progres yang Anda sebut, kelihatannya Anda sukses. Apa strateginya?

Sesungguhnya PLN punya kemampuan untuk menyelesaikan tugas itu secara cepat dan tepat. Kuncinya, ya jangan takut-takut mengambil kebijakan dengan cepat dan tepat. Kalau terlalu banyak pertimbangan dan hanya kebanyakan diskusi, ya kita akan tertinggal dan tidak melakukan apa-apa.

 

Kelihatannya Anda lari jauh lebih cepat dari langgam staf-staf. Tidak takut dinilai melawan arus dan tidak populis?

Saya tidak peduli dengan yang begituan. Kita sebagai pengemban tugas, ya harus bekerja sesuai standar yang diminta oleh tugas itu sendiri.

 

Biodata

 

Nama          : Ir. Dyananto, M.M., M.T., M.H.

Kelahiran    : Ngawi, 30 September 1961.          Istri      : Siti Nur’aini, S.H.

Anak         : 1. Rizki Adipratama, S.Kom.

2. Hafizudin Wirawan

Ayah         : H.R. Soedjono Sastrokoesoemo

Ibu          : Hj. Sri Mariyati

Pekerjaan    :

- Deputy Manager Pemasaran PT PLN Distribusi Jawa Timur (2000-2006)

- Manajer Bidang Niaga dan Pelayanan Pelanggan PT PLN Wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (2006-2008)

- Manajer Bidang Niaga dan Pelayanan Pelanggan PT PLN Wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara (2008-2011)

- General Manager PT PLN Wilayah Lampung (Oktober 2011—sekarang)

 

Sumber: lampungpost.com

http://lampungpost.com/component/content/article/32780.html