DIROPIT PLN BERMALAM NATAL DI PUNCAK GUNUNG FATULEU

KUPANG – Direktur Operasi Indonesia Timur PLN Pusat (Diropit), Vickner Sinaga menyambut hari Natal di puncak Gunung Fatuleu, Desa Nunsaen, Kecamatan Fatuleu Tengah, Kabupaten Kupang.  Sabtu, 24 Desember 2011, jam 18.00 hingga 20.00 Wita, Sinaga mengunjungi warga Desa Nunsaen yang untuk pertama kalinya bisa menikmati listrik, sebagai pelanggan lampu penerangan SEHEN (super ekstra hemat listrik) bersumber dari tenaga surya.

Kunjungan Diropit itu didampingi oleh General Manager PLN Wilayah NTT, S. Januwarsono, dan Supervisor Oesao, Margaritha Yupokoni, serta beberapa pejabat PLN Wilayah NTT.

Saat warga Kota Kupang menuju gereja untuk beribadah menyambut hari Natal, Vickner Sinaga dan rombongan menuju Desa Nunsaen untuk menyaksikan pemasangan lampu penerangan SEHEN di rumah-rumah warga, dan bermalam Natal bersama warga setempat.

Desa Nunsaen, adalah sebuah desa terpencil yang berada di kawasan puncak Gunung Fatuleu, Kabupaten Kupang. Lokasinya berjarak dua jam perjalanan arah timur dari kota Kupang. Akses menuju lokasi yang belum tersentuh layanan listrik ini cukup sulit dengan kondisi jalan mendali yang rusak dan berbatu-batu. Menuju Desa Nunsaen hanya bisa menggunakan mobil berpenggerak empat roda (4 WD).

Warga Desa Nunsaen menyambut hangat kehadiran Vickner Sinaga mewakili Direksi PLN dari Jakarta. Kepala Desa Nunsaen, Marthen Manane, menyampaikan terima kasih kepada PLN, karena warga desa Nunsaen bisa menikmati listrik setelah Indonesia 66 tahun merdeka.

“Lengkaplah sudah kami menjadi bagian dari Indonesia, kami sudah dapat listrik seperti orang-orang di Jakarta. Apalagi kami mendapat terang satu-dua hari sebelum kami merayakan Natal, tanggal 25 Desember, hari lahirnya Kristus, Sang Pembawa Terang,” kata Marthen Manane penuh semangat.

Marthen Manane mengaku nomor satu mendaftarkan diri sebagai calon pelanggan lampu SEHEN PLN sejak bulan Juni 2011. Meski menunggu enam bulan dia sudah menyetor dana deposit sebesar Rp 500.000 dalam bentuk tabungan di Bank NTT, dan sanggup membayar biaya langganan sebesar Rp 35.000,00 per bulan untuk tiga buah lampu SEHEN.

Sementara Lazarus Ndolu, seorang pelanggan yang memiliki usaha dagang kios di Desa Nunsaen, mengaku kepada Diropit, bahwa bukan masalah  membayar langganan lampu SEHEN sebesar Rp 35.000,00 per bulan. Sebab pendapatan usaha kiosnya perhari meraup keuntungan Rp 200.000,00 atau sebulan Rp 2 juta.

Diropit, Vickner Sinaga mengajak warga Nunsaen, pelanggan lampu SEHEN untuk bersyukur.  Lampu SEHEN yang sudah ada di Nunsaen, jelasnya, belum ada di provinsi lain di Indonesia, hanya diciptakan khusus pertama kali untuk Provinsi NTT. Menyusul Maluku akan mendapat SEHEN, yang dipinjamkan dari NTT  sebanyak 2000 buah.

Vickner Sinaga juga mengungkapkan keuntungan menggunakan lampu SEHEN, yang bisa menghemat keuangan. Warga yang biasa menggunakan penerangan lampu teplok mengaku menghabiskan 100 ribu rupiah sebulan untuk membeli minyak tanah. Yang menggunakan lampu petromaks sebulan menghabiskan 250 ribu rupiah.

“Sedangkan pemakai lampu SEHEN cukup membayar 35 ribu rupiah per bulan. Kita harus bersyukur dan bangga, karena uang yang dihemat bisa untuk biaya pendidikan anak-anak,” tandas Vickner Sinaga.