Apa Kata DIRSDM Tentang Outsourcing

040

Tenaga alih daya masih menjadi perbincangan hangat di PLN.  Jika pada tulisan sebelumnya disampaikan.  Tenaga alih daya (outsourcing) pada dasarnya merupakan mitra PLN dalam menunjang kelancaran kerja dan mencapai kinerja yang direncanakan.

Disela-sela pengarahan Direktur SDM PLN Eddy D. Erningpradja kepada para peserta Rapat Kinerja PLN P3N JB, Kamis (22/8/2013) di Gedung Ex. Region Jawa Barat juga angkat bicara.

Menurut Eddy, saat ini, penyenggaraan outsourcing (OS) masih belum sesuai yang diharapkan.  Dirinya masing menyayangkan ada beberapa unit PLN yang melakukan kontrak kerja dengan penyelanggara OS.  Kemampuan mereka masih dibaah kemampuan PLN.

 “Sebaiknya, penyelenggara OS harus minimal mempunyai kompetensi yang sama dengan PLN.”

Kontrak kerja dengan perusahaan OS juga masih bersifat regional.  Sebagi contoh: kontrak kerja dilakukan disetiap rayon.  Pola seperti ini akan menyulitkan konsumen untuk mendapat pelayanan terbaik.  Misalnya Konsumen A tinggal di Rayon B yang dekat Rayon C.  Karena kontrak kerja Area Layanan B jauh dari konsumen, tetapi dekat dengan Rayon C, maka konsumen tidak terlayani oleh C karena bukan wilayah kerjanya.  Sebaiknya kontrak kerja dilakukan oleh unit induk.

Bagaimana kaitannya dengan peraturan menteri tenaga kerja yang mengatur kontrak kerja OS hanya boleh dilakukan untuk pekerjaan yang tidak mempengaruhi proses bisnis utama perusahaan.  Pertanyaan tersebut dilayangkan Himmel Sihombing terkait penyenggaraan OS di PLN.

Senada yang disampaikan GM PLN P3B JB E. Haryadi sehari sebelumnya.  Eddy menjelaskan, PLN tetap bisa menyelenggarakan kontrak OS.  Untuk pekerjaan seperti pencatatan meter pelanggan atau pekerjaan ringan lainnya dapat dilakukan oleh tenaga OS.  “Tidak perlu pegawai PLN yang melakukan pekerjaan tersebut.”tegas Eddy.

Mantan Manjer Bidang SDM PLN P3B Sumatera tersebut mengabil contoh, sudah banyak perusahaan baik nasional maupun internsional yang mengalihkan bidang pekerjaannya kepada tenaga alih daya.

Contoh perama, sebut Eddy, adalah perusahaan logistic DHL yang melakukan OS untuk bidang pengiriman.  “Bahkan perusahaan tersebut juga tidak harus mempunyai cabang pelayananya untuk semua daerah layanannya.  Namun demikian kecepatan pelayanan tetap bisa dilakukan dengan baik.”

Perusahaan multinasional juga melakukan hal serupa, seperti perusahaan taksi,  Para pengemudinya bukan merupakan pegawai perusahaan tersebut.  Walau layanan pelanggan sangat ditentukan oleh layanan para pengemudi taksi.  Dengan mekanisme tertentu, walau pengemudi merupakan tenaga OS, pelayanan tetap dapat diberikan.

Kontrak kerja juga dilakukan oleh perusahaan induk, sehingga pelanggan yang memerlukan layanan didarah A, tidak harus dilayani oleh Pool Taksi A.   Layanan dapat diberikan oleh Pool Taksi terdekat.  Caraya pelanggan menghubungi Pusat Layanan Taksi, selanjutnya pusat layanan akan memberikan informasi kepada Pool Taksi yang terdekat dengan pelanggan.

“Jadi tidak ada masalah jika PLN akan melakukan kontrak kerja alih daya.  Asal kompetensi lebih baik dibandingkan PLN.” Jelas Eddy yang juga berharap PLN P3B JB melakukan transfer ilmu kepada lingkungan sekitar sehingga jika memerlukan tenaga kerja OS sudah tersedia dari luar. (giri3ono/foto:MAP)