Profil P3B Jawa Bali

Gedung Operasi-JCCPembentukan organisasi ini merupakan Keputusan Direksi PLN nomor 093.K/023/DIR/1995.  Tujuannya adalah lebih memfokuskan usaha pengelolaan operasi system, memelihara dan mengembangkan system operasi dan sarana penyaluran, mengelolan transaksi energi dan mengelola pengusahaan jasa telekomunikasi masing-masingsesuai kebijakan Perseroan secara komersil sesuai dengan kontrak kinerja yang ditetapkan oleh Direksi Persroan. Waktu itu, P3B JB dipimpin oleh Hizban Ahmad.  Pembentukan PLN P3B memisahkan fungsi transmisi (penyaluran dari anak perusahaan PLN yaitu : PLN KJB akan menjadi PLN Pembangkitan Jawa Bali I (PJB I) dan PLN KJT menjadi PLN Pembangkitan Jawa Bali II (PJB II).

Pada awal pembentukkannya,  unit ini mengelola system tegangan ekstra tinggi 500 kV,  Tegangan Tinggi 150 kV, Tegangan Menengah 70 kV dan tegangan rendah 20 kV dan dalam perjalanannya tegangan rendah, pengelolalaannya dilimpatkan ke PLN Unit Distribusi.  Pengalihan asset tersebut terjadi di awal tahun 2000-an.  Pengalihan termasuk migrasi pegawai PLN P3B JB ke PLN Distribusi.

2 November 2000: Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Bisnis Strategis Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali, maka PT PLN (Persero) P3B yang merupakan unit pusat laba (profit center) berubah menjadi unit pusat investasi (investment center) dengan nama Unit Bisnis Strategis Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali (UBS P3B).  Perubahan status tersebut dilakukan untuk menatisipasi jika UU nomor 20 tahun 2000 tentang ketenagalistrikan diberlakukan.

Tim Implementasi UBS P3B berdasarkan Keputusan Pemimpin P3B nomor: 001.K/021/PP3B/2001.  Tim ini dibawah arahan langsung Basuki Prayitno dibantu EH Gultom, Nandy Arsjad dan  Bambang Waskito.  Sebagai Ketua Muljo Adji AG

Tim ini dibagi menjadi beberapa Bidang.  Bidang Perencanaan ditunjuk Muljo Adji AG.  Tim II (Bidang Teknik) diketuai Suyono, Tim III Bidang Keuangan dan Niaga Parlidungan Siagian, Tim IV Bidang SDMO dikomandani Iwan Bachtiar, Tim V : Bidang Umum/General Affair (Nazaruddin Said), Tim VI Bidang Audit Internal (Halomoan Sibarani), Tim VII Unit Setelmen Ulysses R Simanjuntak, Tim VIII Unit Bidang Operasi Sistem diketuai Edy Wahyudi.  Bidang-bidang tersebut merupakan cikal bakal bidang-bidang yang ada sekarang ini di Kantor Induk.

Tidak kalah pentingnya adalah Tim IX dan Tim X.  Tim pertama bertugas melakukan implementasi pelimpahan asset trafo distribusi.  Tim ini diketua mantan Kepala Sektor Jakarta Djoko Hastowo.  Sedangkan Tim kedua ditugaskan untuk mempercepat implementasi regionalisasi dan regrouping tragi.  Jika sebelumnya terdapat banyak sektor dan unit transmisi dan gardu induk (utragi), dengan terbentuknya UBS, dirampingkan menjadi 4 regional.  Keempatnya adalah Region Jakarta dan Banten (R1), Region Jawa Barat (R2), Region Jawa Tengah dan DIY (R3) dan Region Jawa Timur dan Bali (R4).  Ketua Tim ini Muljo Adji AG untuk R1, Kikid Sukantomo Adibroto (R2), Edy Wahyudi (R3), dan Djoko Hastowo (R4).  Tim XI : Pengabungan Proyek ke UBS P3B yang dipimpin Djodi Suprapto.  Namun niat tersebut urung dilakukan karena hingga sekarang tidak bisa dilaksanakan.

Pembentukan Unit Bidding dan Operasi Sistem dimaksudkan agar Kantor Induk UBS P3B hanya terlibat dengan isu strategis dan tidak terlibat pada kegiatan operasional.  Sedangkan pembentukan Unit Setelmen selain dimaksudkan untuk memisahkan kegiatan operasional metering dan setelmen dari Kantor Induk juga dimaksudkan untuk mempercepat proses setelmen melalui pemberian wewenang yang lebih besar khususnya dalam menangani perselisihan.  Keuntungan lain adalah akuntabilitas yang lebih jelas sehingga lebih mudah untuk mengidentifikasi biaya proses setelmen.

Hal yang juga baru pada organisasi UBS P3B adalah pembentukan Unit Pelayanan Transmisi (UPT) dan Unit Jasa Teknik (UJT), yang merupakan bagian dari organisasi Region. Pembentukan UPT dimaksudkan sebagai upaya untuk mengefisienkan pelaksanaan proses bisnis operasi dan pemeliharaan sistem penyaluran sejalan dengan rencana pengalihan kepemilikan aset trafo HV/MV dari UBS P3B kepada Distribusi.  Dan, Pembentukan UJT dilakukan sebagai langkah untuk pemisahan usaha di luar pokok (non-core) dari usaha pokok (core) yang sifatnya monopoli. UJT didirikan untuk transisi menuju pemisahan usaha core dan usaha non-core, mengoptimalkan utilisasi sumberdaya yang ada, dan memungkinkan pengembangan usaha di luar usaha pokok menjadi lebih fokus dalam menangkap peluang yang ada sehingga dapat memberikan kontribusi bagi laba usaha.

•Visi P3B Jawa Bali :

Diakui sebagai pengelola transmisi, operasi sistem, dan transaksi tenaga listrik dengan kualitas pelayanan setara kelas dunia, yang mampu memenuhi harapan stakeholders dan memberikan kontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.

•Misi P3B Jawa Bali :

1.Mengelola operasi sistem tenaga listrik secara andal
2.Melakukan dan mengelola penyaluran tenaga listrik tegangan tinggi secara efisien, handal dan akrab lingkungan
3.Mengelola transaksi tenaga listrik secara kompetitif, transparan dan adil
4.Melaksanakan pembangunan instalasi sistem transmisi tenaga listrik Jawa-Bali
Dibawah kepemimpinan GM PLN P3B JB E. Haryadi, Visi PLN P3B JB beruba menjadi:
1. ANDAL
2. PROAKTIF
3. BERSIH

(giri3ono)