BoD Note (Catatan Direksi)

Pemeliharaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB)

oleh : Ngurah Adnyana – Direktur Operasi Jawa Bali

Pada akhir Oktober 2011 sehari menjelang pelantikan Pak Nur Pamudji sebagai Direktur Utama, saya bersama pak Zainal Abidin Sihite – Kepala Divisi Transmisi Jawa Bali yang biasanya dipanggil Pak ZAS – berkunjung ke daerah Banten Selatan yaitu ke daerah Saketi dan Rangkasbitung. Keluar dari jalan tol Jakarta – Merak di pintu tol Serang Timur, kami menyusuri jalan kabupaten yang hanya cukup untuk 2 kendaraan berselisih jalan, tapi jalannya cukup rata. Setelah perjalanan lebih dari 3 jam dari Jakarta sampailah kami ke Gardu Induk (Gl) Saketi 150 kV. Gl Saketi 150 kV ini relatif baru, karena baru beroperasi 1 Januari 2011. Memang mayoritas Gl yang ada di Banten Selatan ini adalah Gl lama seperti Gl Saketi 70 kV, Gl Rangkasbitung, Gl Menes dan Gl Bunar yang masih dipasok dari tegangan 70 kV. Karena beban terus bertambah, GI-GI 70 kV ini tegangannya menjadi sangat rendah, sehingga tegangan pelayanan disisi 20 kV juga rendah.

Dengan mulai beroperasinya Gl 150 kV ini diharapkan tegangan pelayanan di daerah ini bisa memenuhi standar tegangan pelayanan. Kenyataannya masih banyak ditemukan daerah-daerah dengan tegangan pelayanan cukup rendah di pulau Jawa ini yang masih menunggu Gl baru beroperasi, seperti di daerah pantai utara Madura, daerah Pemalang Selatan yang menunggu Gl Balapulang/Banjaranyar beroperasi, daerah Lamongan-Jatim yang menunggu Gl Paciran, daerah Cianjur Selatan yang menunggu Gl Tanggeung, serta daerah-daerah lainnya.

Selain menaikkan tegangan pelayanan, beroperasinya Gl Saketi 150 kV ini diharapkan bisa menurunkan susut distribusi di Area Banten Selatan yang saat ini masih di angka 19 %. Pak Kusmana, Asman Perencanaan menjanjikan bila GI-GI baru 150 kV beroperasi, maka susut distribusi di Area Banten Selatan akan turun menjadi dibawah 13 % pada akhir tahun 2011 ini. Di Jawa Bali hanya tersisa 2 Area yang mempunyai susut distribusi diatas 13 % yaitu Area Pamekasan dan Area Banten Selatan. Pada awal tahun 2011 sebetulnya masih ada 3 Area di Jawa Bali yang susutnya diatas 13 %. Tapi dalam perjalanan tahun 2011, Area Cianjur sudah bisa menurunkan susutnya menjadi 11 %. Di Gl Saketi kami meresmikan beroperasinya Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) Saketi -Rangkasbitung sejauh 33 km yang baru selesai dibangun dengan selamatan tumpengan kecil. Pembangunan saluran transmisi ini dikomandoi oleh P3B Jawa Bali yang dimulai sejak tahun 2008 dan baru selesai 2011, mengingat banyak masalah pembebasan tanah untuk tapak tower dan Right of Way (RoW) atau jalur bebas dibawah saluran transmisi tersebut. Di jaman demokrasi yg berlebihan ini, pembebasan tanah menjadi kendala utama dalam pembangunan transmisi yang melewati sekian banyak desa, kecamatan dan kabupaten. Tapi dengan ketelatenan dan cara-cara tertentu, teman-teman yang mengurus pembelian tanah untuk tapak tower dan pembebasan RoW akhirnya dapat membebaskan tanah untuk tapak tower.

SUTT Saketi – Rangkas ini merupakan bagian dari SUTT baru yang utamanya direncanakan untuk dapat mengevakuasi atau menyalurkan daya listrik yang dibangkitkan oleh PLTU Labuan 2 x 300 MW -salah satu dari pembangkit 10.000 MW yang sudah beroperasi. Tujuan kedua adalah menggantikan Gl 70 kV yang sudah tidak memadai lagi di daerah Banten Selatan dan tujuan ketiga untuk meningkatkan fleksibilitas operasi transmisi 150 kV kalau sudah tersambung menjadi SUTT Saketi-Rangkasbitung-Kopo dan akhirnya masuk ke sub-sistem Cilegon. SUTT ini akan memperkuat kemampuan melayani pelanggan-pelanggan industri yang tumbuh sangat pesat di daerah Serang, Cilegon dan sekitarnya. Namun SUTT ini belum lengkap terbangun dan masih sedang dikerjakan oleh teman-teman Proyek Jaringan Jakarta-Banten. SUTT Rangkas – Kopo sejauh 16 km masih menyisakan satu tapak tower yang belum bebas. Pemilik tanah ini adalah seorang pengembang perumahan yang tanahnya tidak mau dilewati saluran transmisi karena dikhawatirkan bisa menurunkan harga jual rumah-rumah yang akan dibangun. Nah ini salah satu bentuk hambatan pembangunan jaringan transmisi. Saat acara pemberian tegangan SUTT Saketi – Rangkas, saya berpesan kepada teman-teman P3B yang mengoperasikan Gl Saketi atau Gl lainnya agar disamping perhatian utama pada keandalan dan keamanan operasi, perlu diperhatikan lingkungan Gl. Jangan sampai Gl nya andal dan aman tapi lingkungannya gersang. Jangan sampai kalau ke Gl kita hanya melihat besi dan kawat bersliweran serta bangunan beton yang berdiri kekar. Kalau Gl masih diselimuti hanya oleh kawat dan besi, Gl ini terlalu maskulin ! Mari kita buatGI sedikit feminim sehingga ada keseimbangan antara kekekaran dan kelembutan. Kalau di Gl kita tanami pohon-pohon rindang dan kembang warna-warni, maka semangat dan kegembiraan akan otomatis muncul, yang akan memberi energi extra untuk bekerja, bekerja, bekerja ….

Setelah dioperasikannya SUTT Saketi – Rangkas, ternyata di ujung saluran tranmisi ini, Gl Rangkas 150 kV belum bertegangan. Lalu saya tanya “Lha kalau SUTT diberi tegangan tapi tidak ada Gl diujungnya, untuk apa diberi tegangan ?” Teman-teman proyek menjelaskan “Agar saluran ini tidak dicuri orang Pak.” Bagus, memberi tegangan pada jaringan listrik, ada fungsi pengamanan terhadap kemungkinan pencurian jaringan listrik seperti yang sudah sering terjadi. Kemudian saya tanya lagi “Kapan Gl Rangkas 150 kV akan beroperasi ?” Teman tadi menjawab “Gl Rangkas dibangun oleh Proyek Jaringan Jawa Bali dan sedang penyelesaian Pak….” Ingin mengetahui progres pembangunan Gl Rangkas 150 kV, berangkatlah kami ke Rangkasbitungsekitar 1 jam perjalanan dari Gl Saketi.

Gl Rangkasbitung 150 kV baru

Sesampai di Gl Rangkasbitung 150 kV hal pertama yg jadi perhatian saya adalah banyaknya kabel 20 kV dalam haspel atau gulungan kabel yang bertebaran di jalan masuk ke Gl. Kabel-kabel ini memang disiapkan oleh Area Banten Selatan untuk kabel keluar (outgoing) dari Gl sebagai pangkal dari 10 penyulang yang akan melayani pelanggan. Ini bagus, kabel keluar penyulang dipasang pararel dengan penyelesaian Gl baru. Memang demikian seharusnya. Jangan sampai Gl baru sudah beroperasi, kabel keluar Gl yang akan melayani pelanggan belum siap beroperasi.

Hal kedua yang menjadi perhatian saya adalah tanah untuk Gl Rangkasbitung ini. Tanah ini berbentuk memanjang kebelakang dengan lebar sekitar 40 meter. Dari pinggir jalan memanjang ke belakang sepanjang 30 meter seluas lebih kurang 1200 m2 relatif rata. Kemudian menurun ke lembah dengan kedalaman 10 meter sepanjang 50 meter. Kemudian naik lagi dan baru ketemu tanah datar lokasi Gl Rangkas 150 kV dibangun. Tanah untuk bangunan switchyard atau gantry Gl nya sendiri tidak terlalu luas. Bangunan ruang kontrol juga sederhana. Dari sisi efisiensi, tanah dan bangunan tempat berdirinya Gl ini cukup sederhana. Tapi tanah yang dibebaskan terlalu berlebihan dan tidak bisa dimanfaatkan kecuali untuk bikin kolam beternak lele atau sebangsanya.

Saya agak heran, kenapa mencari tanah untuk Gl di daerah Rangkasbitung sedemikian sulit ya…? Kalau susah mencari tanah untuk Gl di Jakarta, bisa dimengerti. Tapi di Rangkasbitung yang masih banyak tanah kosong, Iho kok malah memilih tanah yang ada lembahnya, yang ada kolam ikannya ?? Apakah yang membebaskan tanah untuk Gl Rangkas ini senang beternak ikan…? Saya tidak tahu. Waktu saya tanyakan kepada pak Mayarudin – Manajer Proyek Jaringan Transmisi Jakarta-Banten, “Kenapa tanah yang dibebaskan untuk Gl ini bentuknya demikian, hanya 50 % yang bisa dimanfaatkan untuk Gl ?” Pak Mayarudin menjawab “Waduh maaf Pak, Saya tidak paham karena ada teman lainnya yg bertugas membebaskan tanah\”. Tidak jelas juga apakah Tim Pembebasan Tanah untuk Gl Rangkasbitung ini sudah berkoordinasi dengan teman-teman P3B atau teman-teman Distribusi ? Dulu waktu ramai-ramainya pembangunan listrik pedesaan, PLN sering diberi tanah oleh masyarakat atau Pemda setempat untuk membangun PLTD sebagai sumber listrik. Tapi tanah itu biasanya berlokasi di ujung desa atau dekat kuburan. Karena dihibahkan, bargaining position atau posisi tawar PLN untuk meminta tanah yang lebih “baik” menjadi lemah. Lho, wong sudah diberi tanah kok minta yang baik ? Tapi kalau untuk pembangunan Gl, pembebasan tanah dibiayai sepenuhnya oleh uang PLN. Adalah sangat wajar kalau PLN bisa memilih tanah yang baik untuk lokasi Gl, sehingga bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin dan tidak terbuang-buang. Teman-teman proyek yang ditugaskan membebaskan tanah untuk Gl mestinya sangat paham filosofi membebaskan tanah ini.

Kalau kesulitan mencari tanah untuk Gl, teman-teman proyek sebetulnya bisa berkoordinasi dengan teman-teman distribusi yang lebih mengenal wilayahnya. Lagi pula teman-teman distribusi yang lebih tahu arah perkembangan daerahnya, dimana akan tumbuh kawasan perumahan, industri atau kawasan bisnis. Waktu saya bertugas di Bali, teman-teman proyek Jawa Bali Nusra (JBN) waktu itu, berkooordinasi dengan teman-teman distribusi untuk mencari lokasi pembangunan Gl Payangan. Beberapa tahun kemudian mencari tanah lagi untuk Gl Kuta. Teman-teman Distribusi yang mencarikan alternatif lokasi tanah sesuai kriteria tertentu seperti kemudahan menyambung dari SUTT yang ada, lalu teman-teman proyek yang membebaskan tanahnya. Malah Tim Pembebasan Tanah ini merupakan gabungan dari teman-teman Proyek dan Distribusi. Surat Keputusan (SK) Tim juga ditandatangani oleh GM Proyek bersama dengan GM Distribusi. Koordinasi untuk membentuk Tim Pembebasan Tanah gabungan seperti ini mestinya diteruskan, diintensifkan untuk mendapatkan hasil yang maksimal bagi usaha PLN.

Hal ketiga yang menjadi perhatian saya adalah bangunan dan instalasi Gl-nya sendiri. Setelah mengamati Gl yang sudah terbangun, ternyata trafo 150/20 kV sudah terpasang, panel 150 kV dan 20 kV juga sudah terpasang. Tower pertama sudah berdiri kokoh dan saluran transmisinya juga sudah bertegangan – yang sebelumnya sudah diberi tegangan dari Gl Saketi. Tapi ternyata Gl Rangkas Baru ini belum d i en erg/ze atau belum dioperasikan.

Lalu saya tanyakan “Kapan Gl ini akan dienergize ?” “Belum terbit SLO-nya Pak” kata Pak Mayarudin. “Lho masalahnya apa…? kan trafo dan Iain-Iain sudah terpasang ?” Pak Mayarudin tengok kanan, tengok kiri lalu teman dari PLN Jasa Sertifikasi (Jaser) yang bertugas memeriksa kesiapan Gl untuk penerbitan SLOnya dipanggil. Oh ya SLO itu singkatan dari Sertifikat Laik Operasi yang harus sudah terbit sebelum suatu instalasi listrik diberi tegangan. Seperti juga kalau instalasi listrik di rumah pelanggan PLN, belum boleh diberi aliran listrik PLN kalau belum ada SLO.

Ketika saya tanya kepada teman Jaser ini, kenapa belum diterbitkan SLO Gl Rangkas 150 kV ini, teman ini menjawab “lya Pak persyaratan SLO belum dipenuhi.” Saya tanya lagi “Pekerjaan apa saja yang merupakan pending items atau yang masih belum memenuhi syarat diterbitkannya SLO ?” Teman ini menjawab “Pagar trafo masih dikerjakan, batu koral untuk lantai switchyard Gl belum dipasang, penutup parit kabel belum selesai. Tapi secara umum dari sisi listrik dan mekanik sudah bisa dioperasikan Pak.” Lho, heran lagi saya. “Kalau cuma penutup parit kabel, pagar trafo dan batu koral yang belum tuntas, kok belum diterbitkan SLO, kan pending items tersebut masih bisa diselesaikan secara pararel ?” Teman Jaser ini menjelaskan lagi “Ada satu persyaratan yang bersifat major Pak, yaitu penangkal petir untuk bangunan ruang control karena banyak peralatan control harus dilindungi dari petir !”

Kalau saya tidak ada di lokasi Gl, saya pasti manggut-manggut. Setuju, Gl Rangkas belum bisa dienergize karena penangkal petir bangunan ruang kontrol belum dipasang. Tapi karena saya ada dilokasi Gl, saya bisa melihat sendiri bahwa tidak mungkin bangunan ruang control Gl kena petir. Lho, kenapa ? Bangunan ruang control itu hanya satu lantai, atap tertinggi paling sekitar 4 meter. Sedangkan bangunan gantry berdiri disamping bangunan ruang control hanya berjarak 7 meter dengan tinggi 15 meter. Sekitar 30 meter dari ruang control berdiri tegak tower transmisi pertama dengan tinggi 50 meter. Gantry dan tower transmisi ini sudah terbangun lengkap dengan penangkal petirnya yang akan melindungi dirinya sendiri dan bangunan sekitarnya dari petir. Kalau kita pernah belajar ilmu petir, petir yang datang pasti menyerang bangunan tertinggi seperti bangunan tinggi, pohon kelapa atau tower transmisi. Jadi kalau petir mengarah ke Gl Rangkas, pastilah yang dituju tower transmisi yang tingginya 50 meter dan tidak mungkin menuju bangunan ruang control yang tingginya hanya 4 meter.

Jadi menurut saya, sudah tidak relevan menjadikan penangkal petir bangunan ruang control sebagai alasan tidak diterbitkannya SLO. Akhirnya setelah berbicara dan berdebat via telepon dengan GM dan Manajer PLN Jaser – yang keduanya belum pernah ke Gl Rangkas, saya minta SLO diterbitkan dan saya putuskan di lapangan : silahkan Gl Rangkas dioperasikan dan dimulai dengan trafo 150/20 kV dienergize ! Kemudian saya meninggalkan lokasi Gl Rangkas untuk kembali ke Jakarta.

Malam itu masih dalam perjalanan kembali ke Jakarta, saya menerima laporan dari Pak Mayarudin bahwa pukul 21.15 WIB trafo 150/20 kV sudah dienergize. Syukur kepada Tuhan Gl Rangkas sudah dienergize. Besok malamnya saya menerima laporan dari Pak Mukhlis – Manajer Area Banten Selatan bahwa 4 (empat) penyulang dari Gl Ona (sebutan baru untuk Gl Rangkas 150 kV) telah beroperasi dengan dibebani 15 MW dan selanjutnya akan ditambah dengan 6 (enam) penyulang 20 kV baru. Besoknya lagi Pak Mukhlis melaporkan bahwa dengan beroperasinya Gl Rangkas atau Gl Ona itu tegangan pelayanan di pelanggan paling ujung telah naik sekitar 15 volt dari sebelumnya 365 voltmenjadi 380 Volt. Syukurlah saya membayangkan alangkah bahagianya masyarakat pelanggan PLNyang sebelumnya tegangannya redup-redup, sekarang tambah terang listriknya.

Kenapa Gl Ona harus cepat dioperasikan ?

Selain menaikkan tegangan pelayanan, menurunkan susut distribusi, memberikan beban pada PLTU Labuan sehingga pembebanan atau capacity factor bisa maksimal yang notabene menguntungkan PLN, yang paling penting adalah masyarakat bisa menikmati listrik dengan terang, tegangan sesuai standar, sehingga listrik bisa menjadi penggerak ekonomi dan membangun kehidupan yang lebih baik di masyarakat. Ini memerlukan keputusan cepat, lepas dari kungkungan birokrasi yang sering mengedepankan aturan, kaidah-kaidah legal tapi ternyata lepas dari konteks besarnya.

Mari bersama menikmati kebahagiaan masyarakat dengan memberi pelayanan yang cepat kepada pelanggan. Bagaimana ?

 

Jakarta, awal November 2011

Untuk menanggapi Bod Note silahkan ditujukan ke : bodnote@pln.co.id