Membangun dan Mengoperasikan PLTU, Kenapa Tidak?

Sukses PLN Pusharlis membangun sejumlah PLTM baru, diganjar 20 proyek serupa pada 2013. Tantangan selanjutnya adalah merambah pengerjaan PLTU guna memantapkan posisi sebagai unit produksi di bidang MRO.

 

Direktur Operasional PLN Wilayah Indonesia Timur Vickner Sinaga, memuji keberhasilan PLN Pusharlis membangun dan mengoperasikan PLTM tepat waktu dengan  kualitas yang tak diragukan. Padahal PLN Pusharlis terlibat secara menyeluruh, mulai pengerjaan survey debit air dari head (ketinggian jatuhnya air), kapasitas air, mendesain, melakukan fabrikasi turbin air, peralatan kontrol mekanikal dan elektrikal, pekerjaan sipil, pemasangan seluruh komponen sampai dengan beroperasinya PLTM.

Atas prestasi tersebut, Vickner tak ragu untuk memberikan 20 proyek serupa yang harus digarap oleh PLN Pusharlis pada 2013. Vickner menyebutkan beroperasinya PLTM Lokomboro (Sumba Barat Daya), PLTM Sawidago (Tentena, Sulawesi Tenggara) dan PLTM Walesi (Wamena, Papua), memberikan kontribusi yang cukup signifikan kepada PLN yang terus berupaya mengejar rasio elektrifikasi yang diperkirakan baru tercapai 100 persen pada 2020.

Saat ini rasio tersebut baru mencapai sekitar 65 – 70 persen. Ketimpangan juga masih mewarnai pasokan listrik karena sekitar 80 persen listrik masih dihasilkan oleh pembangkit-pembangkit yang terpusat di Jawa dan Bali, 11 persen di Sumatera dan sisanya di Kalimantan, Sulawesi dan wilayah Indonesia Timur yang hanya menyumbang sekitar 9 persen.

Kawasan Indonesia Timur memang paling “menderita” karena PLN baru bisa memasok 62 persen listrik untuk seluruh wilayah. Di bagian terluas dari wilayah Indonesia ini, PLN harus memasok listrik di 15 provinsi. “Namun karena terkendala oleh berbagai kondisi terutama geografis, sebanyak 15 ibu kota kabupaten sampai saat ini masih belum teraliri listrik”, ungkap Vickner. Menjawab tantangan tersebut, Kepala PLN Pusharlis, Budi Susanto menyatakan kesiapannya. Budi menyebutkan, ke 20 unit PLTM yang akan dibangun itu antara lain di Sumba 5 unit, di Lokomboro eksisting segera dibangun unit 6, 7 dan 8, serta di Waikalo Sawah, Umbuwangu, Praikalala, Kananggar, Laputi, Maidang, dan Nggogi di Pulau Sumba yang potensi airnya cukup bagus guna dibangun PLTM.

Budi mengakui, kesuksesan PLN Pusharlis karena dorongan Direksi dan Manajemen PLN (Persero).  Khususnya mantan Dirut PLN Dahlan Iskan, yang menantang PLN Pusharlis untuk merampungkan desain PLTM yang selama dua tahun “terombang-ambing” dalam ketidakpastian. Lewat Keputusan Direksi No. 067.K/DIR/2011 yang mengubah PLN Jasa & Produksi menjadi PLN Pusharlis, tantangan membangun dan mengoperasikan PLTM hanya dalam tempo satu tahun, telah berhasil dibuktikan.

Alhasil, berbekal keberhasilan tersebut, PLN Pusharlis merasa pede untuk menerima tambahan 20 proyek PLTM baru. Bahkan, siap merambah pengerjaan PLTU yang lebih menantang, khususnya dalam pengerjaan MRO (maintenance, repair dan overhaul) PLTU, terutama produk-produk China yang kebetulan tidak disertai gambar, spesifikasi teknis dan detail drawing yang memadai.

“PLN Pusharlis memiliki kompetensi untuk membuat gear box, poros, grinding roll, burner tip dan lainnya”, ujar Budi. Beberapa PLTU yang kini sedang dalam penanganan MRO oleh PLN Pusharlis adalah PLTU Labuan dan PLTU Labuhan Angin yang sejak beberapa waktu lalu sudah lepas jaminan pemeliharaan dari pabrikan (warranty inspection). Budi menyebutkan, dimasa depan tak menutup kemungkinan PLN Pusharlis akan membangun dan mengoperasikan PLTU baru, dengan skema mirip dengan PLTM.

Pengerjaan PLTU baru diyakini akan semakin memantapkan posisi PLN Pusharlis sebagai unit yang capable dalam pembangunan sekaligus MRO proyek-proyek PLTU di lingkungan PT PLN (Persero).