Kajian Pembangkit Listrik Tenaga Solar Thermal Dengan Metode Parabolic Trough

No.           : 05.LIT.2011

Penulis   : Harry Indrawan, ST, MSc ; Ir. Agus Yogianto, MT; Almas A, ST; Hendra, ST; Hadi N

Abstrak :

Sumber energi terbarukan selain lebih bersih juga melimpah dibandingkan sumber bahan bakar fosil, akan tetapi tersebar dan membutuhkan biaya yang mahal untuk menggunakannya. Salah satu energi terbarukan yang masih sedikit pemanfaatannya yaitu yang berasal dari matahari/surya mempunyai potensi energi yang besar dan terjamin keberadaannya di muka bumi. Ustrik yang dihasilkan dari Energi Surya dapat digunakan untuk mengganti atau paling tidak mengurangi pemakaian bahan bakar fosil (misal minyak atau batubara).

 

Pemanfaatannya umumnya terbagi dalam dua jenis, yakni thermal dan photovoltaic. Pada sistem thermal, energi surya digunakan untuk memanaskan fluida atau zat tertentu yang selanjutnya fluida atau zat tersebut dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik.

 

Beberapa metode yang digunakan didunia saat ini untuk Parabolic trough adalah sebagai berikut, Uap panas dengan menggunakan fluida pernindah panas (Heat Transfer Fluid), Uap panas dengan langsung menggunakan sinar matahari {Direct Steam Generation), Gabungan siklus pembangkit listrik menggunakan bahan bakar fosil dan solar thermal (Combined Cycle). Dalam pembangkit solar thermal kapasitas pembangkit akan menentukan biaya produksi listriknya tetapi seiring kenaikan kapasitas maka area tanah yang dibutuhkan akan semakin besar. Level maturity teknologi juga akan mempengaruhi biaya investasi. Pembangkit Solar Thermal dengan Parabolic Trough selain secara komersial terpasang lebih banyak dibanding dengan teknologi solar thermal lainnya juga mempunyai level maturity teknologi yang lebih baik sehingga dapat digunakan untuk digunakan di Indonesia.

 

Daerah yang direkomendasikan untuk pembangunan PLT fular thermal berdasarkan data Direct Normal Irradiance (DNI) dari NASA adalah daerah sepanjang Nusa Tenggara barat, Nusa Tenggara Timur sefta Kepulauan Maluku. Untuk studi kasus Pulau Rote Ndao, Biaya pokok produki untuk Parabolic trough dengan kapasibs 4 MW maka diperoleh Rp 1.642/kwh dan area tanah yang dibutuhkan 38.525 m2.