PLN Lakukan Pemadaman Bergilir

RIAU POS – 09/08/2011 – Hal.1

PEKANBARU (RP) – Musim kemarau yang melanda wilayah Sumatera beberapa waktu terakhir mulai berimbas pada turunnya debit air di tiga PLTA yang memasok listrik untuk Riau dan Sumbar. PLTA Koto Panjang, PLTA Singkarak dan PLTA Maninjau tak beroperasi optimal. Kekurangan pasokan ini bisa berimbas pada terjadinya pemadaman bergilir akibat defisit daya.

Manajer Bidang SDM dan Humas PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau (WRKR), Suhatman mengaku akan melakukan pemadaman bergilir untuk pelanggan di Riau terhitung Rabu (10/8). Kondisi ini bisa berlanjut hingga September.

” Namun General Manager PLN WRKR Djoko R Abumanan mengaku opsi itu sempat dipilih, namun pihaknya mengaku tetap berupaya tak melakukan pemadaman bergilir, setidaknya untuk pelanggan umum.

” Pemadaman sementara ini karena debit air berkurang sehingga pembangkit kita di Singkarak, Maninjau, dan Koto Panjang hanya bisa memasok sekitar 92 MW, ” Kata Suhatman didampingi Manajer teknik M Shodiq pada wartawan di kantornya Jalan Setiabudi, Pekanbaru, Senin (8/8).

Dijelaskannya, pemadaman bergilir akan dilakukan dengan durasi dua jam sehari dari rentang waktu pukul 08.00 WIB – 15.00 WIB. Artinya, saat berbuka sampai sahur dipastikan aman pemadaman. Tak menutup kemungkinan jika seandainya terjadi hujan lebat di Sumbar dan debit air danau meningkat, prediksi bisa berubah. ” Karena ada air masuk ke danau, kita bisa kita maksimalkan lagi PLTA nya sehingga pemadaman tak ada lagi, ” ungkapnya.

Dijelaskannya, kondisi normal PLTA Kotopanjang mampu menghasilkan daya 114 MW, namun kini hanya mampu menghasilkan 38 MW. Sedangkan PLTA Singkarak dari 175 MW jadi 36 MW dan PLTA Maninjau dari 68 MW jadi 16 MW. Jadi total daya yang dihasilkan ketiga PLTA itu 92 MW. Daya sebanyak itu akan dibagi untuk Riau, Jambi dan Riau. Sistem Riau dapat 36 MW.  ” Sedangkan kebutuhan Riau daratan sendiri pada beban puncak mencapai 389 MW. Untuk memenuhi kekurangan daya tersebut PLN Wilayah Riau dan Kepri sangat bergantung pada jaringan  interkoneksi dari wilayah Selatan (Sumbagsel, red) ditambah pembangkit listrik tenaga diesel yang disewa PLN, ” jelasnya.

Sebelum Ramadhan, Riau Pos juga memperoleh informasi dari PLN, untuk Pekanbaru selain dari interkoneksi juga dapat pasokan dari pembangkit isolated (tak masuk sistem interkoneksi) yakni Riau Power 18 MW, mesin sewa PLTD 40 MW, pembangkit Sektor 8 MW sehingga totalnya 66 MW. Ini dalam kondisi normal, Saat itu PLN jamin takkan ada pemadaman bergilir.

” Jadi kita sangat memerlukan pasokan dari interkoneksi dari Selatan sebesar hingga 200 MW. Kalau ini terganggu, Riau kena efeknya. Selama ini PLN juga sudah memasang PLTD sewa 40 MW, tapi karena di Selatan ada PLTA kekurangan 38 MW akhirnya terjadilah pemadaman bergilir ini untuk sementara, ” ujarnya.

Selama ini, lanjutnya, Riau sangat bergantung pada dua sistem, baik dari selatan maupun utara. Menurut Suhatman, permasalahan pemadaman bergilir bukan masalah bulan puasa tapi karena musim kemarau sehingga PLTA tak dapat difungsikan dengan baik. ” Saat ini air di PLTA masih ada, namun kita harus menghemat air. Bisa saja air di PLTA dipakai semua, namun takut nanti tak ada hujan sehingga PLTA jadi kering dan tak berfungsi, ” jelasnya.

Untuk itu Suhatman menghimbau seluruh masyarakat pekanbaru agar dapat memaklumi keadaan yang terjadi dan bisa mengerti terhadap pemadaman yang dilakukan PLN. Kondisi pembangkit, Alhamdulillah saat ini sedang dalam kondisi dioptimalkan, dari 92 MW yang ada untuk Riau diharap bisa menghemat air, ” sebutnya.

General Manager PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau, Djoko R Abumanan saat ditanya kebenaran mengenai pemadaman bergilir, membantah hal itu. ” Saya hari ini rapat dengan Direktur Operasi Indonesia Barat untuk kalkulasi ulang menyeimbangkan pembangkitan dan pengaturan beban, Insya alllah tak ada pemadaman kemasyarakat umum sehingga mereka tak merasakan pemadaman, Namun diharapkan masyarakat umum tetap menghemat selama debit air yang masuk ke PLTA-PLTA di Riau berkurang, ” ujar Djoko.

Disebutkannya, memang dalam rapat mereka Jumat (5/8) lalu kondisi defisit ini terjadi karena berkurangnya pasokan air yang masuk hampir ke semua PLTA di Sumatera. Untuk menyiasati hal itu, ada rencana pemadaman pada siang hari agar bisa mamasok listrik maksimal pada malan hari. ” Pada Ramadhan kali ini rentang waktu beban puncak tersebut sangat panjang, mulai dari pukul 18.00 WIB sampai 6.00 WIB. Nah ini membuat defisit yang terjadi sangat terasa. Untuk itu agar masyarakat bisa beribadah pada malam hari, kita tak lakukan pemadaman malam hari, ” ujar Djoko.

Langkah lain, lanjutnya,  dengan pengaturan di PLTA untuk menaikan kapasitas serta kapasitas pada mesin sewa. Dengan demikian kekurangan bisa ditutupi. Tapi perawatan dan pemeliharaan juga harus ditunda sampai selesai Ramadhan.

” Kita berharap masyarakat juga menyelenggarakan sholat minta hujan. Jika kondisi hujan, penggunaan AC juga tak terlalu diperlukan sehingga bisa menghemat biaya bagi masyarakat dan juga menghemat listrik,” kata Djoko.

Sementara, di tempat berbeda Manajer PLN Cabang Pekanbaru, Ilham Santoso juga menjelaskan hal senada. PLTA Singkarak, PLTA Koto Panjang sampai di Danau Toba juga berkurang pasokan air. ” Bila dioperasikan secara normal, pada pekan ketiga Agustus, PLTA sudah tak dapat beroperasi lagi karena kekeringan.  (gus/rul/yud/nzr)